FEMINISME DALAM PRESPEKTIF ISLAM

FEMINISME DALAM PRESPEKTIF ISLAM

Oleh: Esmo Nugroho

Press Releasi Kajian

Jakarta, 13 Maret 2018. Pada hari kedua di semester baru ini, UNJ kembali aktif dalam kegiatan KBM, begitu pun dengan kegiatan-kegiatan organisasi kampusnya mulai aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan rutinnya, salah satunya adalah Kajian Islam yang di senggarakan oleh LDK Salim UNJ pada hari selasa sore dimulai sejak 6 maret 2018.

Pada kesempatan ini, Kajian Islam UNJ yang pada sore itu diganti sejanak nama kajiannya menjadi KUPAS (Kajian Umum Pemikiran Islam) mengangkat isu Feminisme yang dipandang dalam prespektif Islam. KUPAS merupakan program kerjanya dapartemen KASRAT (Kajian Strategis) LDK SALIM UNJ. Kajian Umum Pemikiran Islam ini berhasil menarik perhatian Mahasiswa UNJ, tercatat lebih 200 mahasiswa yang memenuhi Masjid Nurul Irfan. Banyaknya mahasiswa yang hadir menggambarkan masih hidupnya budaya diskusi di kampus ini.

Pembicara yang merupakan Direktur Insist yaitu Dr. Henri Salahudin MIRKH memulai bahasan dengan (Qs.Annisa : 32) tentang ketetapan dan peringatan Allah akan setiap laki-laki dan perempuan tidak diperbolehkan iri denga karunia masing-masing. Kemudian pembicara memaparkan sejarah muncul Feminisme yang merupakan wujud kemarahan kaum wanita yang mengalami kekerasan secara fisik, psikologis, juga mengalami diskriminasi bahkan masuk kedalam sebuah sistem perbudakan hal ini terjadi di Perancis dan negara-negera barat lainnya. Akan tetapi malah sebaliknya, hal ini tidak berlaku di beberapa negara islam.

Dalam hal ini, perlindungan atau gerakan yang dilakukan untuk menjaga hak perempuan dirasa masih sejalan dengan yang diajarkan islam. Namun Feminisme semakin menjauh dari syariat islam bahkan adanya gerakan-gerakan lain dibelakang Feminisme yang semakin memperlihatkan sangat bertentangan dengan islam. Salah satunya adalah makna dari sebuah Gender yang diubah melalui jalur-jalur formal, seperti pendidikan dan lembaga hukum. Sehingga Gender yang berwal dari biologis menjadi bahasan sosial, dan Feminisme dalam hal ini membedakan antara Gender dengan Sex (alat jenis kelamin) yang berakhir dengan sebuah konsep yang melahirkan bahwa jenis kelamin bukan hanya ada dua tetapi ada banyak jenis yang harusnya di akui.

Konsep ini akan berakhir dengan sebuah permintaan kesetaraan dan keleluasaan bagi penyakit sex yang menyimpang  (LGBT) dan di design, hal ini menjadi isu Given (pemberian dari Allah) dan tidak bisa diubah atau ditolak. Pembicara juga memaparkan bahwa LGBT bukanlah sebuah Given melainkan banyak faktor salah satunya adalah lingkungan yang menularkan hal itu.

Menurut data feminis, korban pelecehan justru banyak menimpa perempuan berjilbab. Apa tanggapan bapak ? Demikian poin yg ditanyakan salah satu peserta diskusi Kupas Tuntas ketika sesi tanya jawab. “Saya bisa saja mulai menjawab dengan QS. al-Ahzab: 59 bahwa hikmah dari perintah menutup aurat itu antara lain agar wanita tidak mendapatkan gangguan. “Berhubung yang bertanya memulai dengan data dan tidak meminta dalil, maka saya jawab juga dengan data. Ingatlah bahwa tidak satupun negara mayoritas muslim yang masuk dalam 10 negara tertinggi angka pemerkosaannya. (Lesotho, Swedia, USA, Belgia dll) Saya sangat paham bahwa maksud feminis menyampaikan data perempuan berjilbab yg jadi korban pemerkosaan adalah “Masihkah BAJU disalahkan”? Tuh lihat tdk ada korelasi antara pemerkosaan & baju tertutup”. Jawab pembicara

Hal tersebutlah yang ingin dimunculkan Feminis. Tapi bagaimana dengan kasus pemerkosaan terhadap wanita berhijab meskipun bukan kebanyakan ? Menutup aurat itu perintah wajib, sedangkan aman dari gangguan itu adalah salah satu hikmah. Nah apakah jika hikmahnya tidak tercapai (dengan “bukti” kasus-kasus parsial), otomatis perintah berhijab menjadi gugur ? atau sebaliknya, jika tanpa berhijab perempuan sudah tidak lagi mendaptkan gangguan, masihkah perintah itu bersifat wajib? Inilah contoh kesalahan akut dalam berfikir. Ini sama saja mengatakan perempuan boleh keluar malam sendirian ke tempat-tempat rawan, asalkan berhijab.

 

Editor: Agustiana. F

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *