Mengungkap Pembiasan dalam Menyikapi Perbedaan

Salimunj.com- Toleransi dalam keberagaman menjadi topik yang saat ini sedang hangat  dalam perbincangan kaum intelektual masa kini. Di Indonesia sendiri tercatat 6 ragam agama yang berkembang, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Konghucu, Budha, dan Hindu. Bagi penduduk yang memeluk 6 agama yang diakui oleh negara, negara memberikan penghormatan dan penghargaan yang ditunjukkan dengan adanya jaminan kebebasan beragama melalui Konstitusi RI (UUD 1945) dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (selanjutnya disebut UU HAM) dalam beberapa pasalnya.

Ada dua kategori yang diberikan oleh negara, yaitu jaminan kebebasan memeluk agama (kebebasan beragama) dan jaminan kebebasan menjalankan agama yang dipeluknya. Salah satu bentuk keberagaman yang terdapat di Indonesia adalah persoalan agama. Indonesia bukan negara sekuler. Berbicara mengenai persoalan keberagaman agama di indonesia, hal tersebut akan menyinggung kepada bagaimana akhirnya kondisi kerukunan umat beragama. Adanya agama-agama merupakan keniscayaan yang tak bisa dielakkan. Namun kemajemukan yang ada idealnya dikelola sehingga tercipta kerukunan antar pemeluknya. Dalam pembahasan kali ini penulis akan sedikit memaparkan bagaimana akhirnya islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memahami arti daripada tolerasnsi itu sendiri, dan sebagai agama mayoritas islam lah yang kemudian akan menggerakan keharmonisasian dan kerukunan dalam berkehidupan.

Islam sesuai maknanya adalah agama yang membawa kerahmatan dan bahkan bagi alam semesta dan menjunjung tinggi kemanusiaan bagi para pemeluknya (Abujamin Roham,2004:313). Definisi ini menggambarkan bahwa Islam lah yang akhirnya menjadi garda terdepan dalam urusan toleransi. Dalam konteks menjunjung tinggi Kemanusiaan Islam atau bisa dikatakan toleransi terhadap semua umat manusia baik dia beragama Islam ataupun lainnya.

Toleransi secara Bahasa berasal dari Bahasa Inggris Tolerance yang berarti membiarkan. Dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai sifat atau sikap toleran, mendiamkan membiarkan (KBBI, 1989:955). Dalam Bahasa Arab kata toleransi (mengutip kamus Al-munawir disebut dengan istilah tasamuh yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada).

Badawi mengatakan, tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beraneka ragam meskipun tidak sependapat dengannya (Bahari, 2010:51). Toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendirinya  sendiri. Misalnya agama, Ideologi, Ras (Poerwadarminta, 1976:829). Sedangkan menurut Tillman toleransi adalah saling menghargai, melalui pengertian dengan tujuan kedamaian. Toleransi adalah metode menuju kedamian. Toleransi di sebut sebagai faktor esensi untuk perdamaian (Tilman,2004:95).

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Artinya: ”Bagaimana islam yang baik itu” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan yang tidak engkau kenal (HR. Bukhori: 2636, Muslim: 39) .

Hadist diatas menjelaskan bahwa orang islam yang baik itu adalah orang begitu peduli dan bersikap mulia terhadap orang lain baik yang dikenal maupun tidak ia kenal, baik yang beragama islam dan agama lainnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’”(HR. Bukhari (no.1609); Muslim (no.2463); dan lafazh hadits ini menurut riwayat beliau, Ahmad (no.7236); at-Tirmidzi (no.1353); Abu Dawud (no.3634); Ibnu Majah (no.2335); dan Malik (no.1462)).

Hadist ini pun menjelaskan bahwa rasullulah mengajarkan kita untuk menjalin hubungan baik dan saling menolong dengan tetangga kita. Meskipun tetangga kita menganut agama yang berbeda ataupun sering berlaku tidak baik dengan kita, hal tersebut bukan merupakan alasan atau masalah untuk hidup rukun berdampingan.

Menyinggung mengenai masalah toleransi , lagi-lagi islam menjadi garda terdepan dalam hal tersebut. Ketika rasullulah dan para sahabat telah berhasil menguasiai yastrib (Madinah), meskipun begitu rasullulah dan umat islam yang ketika itu menjadi kaum mayoritas tidak serta merta mengusir orang-orang nonmuslim yang tinggal disana. Rasullulah dan umat islam bahkan memulai menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang non musim. Salah satu cara menjalin hubungan baik dengan membuat norma-norma setempat berdasarkan kesepakan bersama yang berisi mengenai jaminan keamanan, keselamatan, kebahagian dan kebakan bagi seluruh umat manusia. Ketika itu rasul pun menerapkan dasar-dasar toleransi yang luwes dan belum pernah dibuat ddunia yang saat itu diwarnai fanatisme primodial. Ketika itu rasullulah pun membuka kebebasan dalam beragam dan mengelola harga bagi mereka dan menghindari kebijak untuk menyerang dan memusuhi mereka (Syaikh Shafiyurrahman al-mubaraffuri,2016:232).

Islam dan toleransi merupakan hal yang begitu dekat, namun ada pemahaman yang harus ditekankan dari maksud sikap-sikap toleransi yang diajarkan oleh rasullullah, toleransi dalam umat beragama cukup dengan kita sebagai seorang muslim membiarkan mereka melaksanakan agama mereka, tidak menyakiti mereka, seperti dalam Surah Al-kafirun ayat ke 6

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Artinya: Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.

Ayat ini mengajarkan bahwa kita sebagai seorang muslim dengan sikap toleransi yang dimilik namun tidak serta merta menjual atau menggadaikan agama yang kita yakini, bahkan menganggap bahwa semua agama sama. Penganut paham bahwa semua agama adalah sama dan mempunyai jalan yang sama-sama sah menuju tuhan yang sama merupakan penganut paham pluralisme. mereka juga beranggapan bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap tuhan yang mutlak sehinggan “Karene kerelativannya” maka setiap agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dibandingkan agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Q.s Ali Imran 3:19
ان الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah , Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Dan QS Ali imran 3:85
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Kedua ayat di atas mengklaim bahwa Allah tidak meridhoi agama-agama yang ada kecuali Islam, bahkan yang mencari agama selain Islam dicap sebagai orang yang merugi di akhirat kelak. Berkenaan dengan QS. 3 [Ali Imran]: 85 di atas, Ibn Katsir menafsirkan, Barang siapa yang mencari jalan (baca: agama) selain yang tentukan oleh Allah, maka jalan itu tidak akan diterima dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Nabi SAW., Barang siapa mengerjakan suatu hal yang mana kami tidak memerintahkannya, maka amal tersebut tertolak.

Di samping itu, Islam juga dapat dicap agama pluralis. Alasannya jelas, Islam sejak lahir telah berhadapan dengan pluralitas agama, ras, suku, dan tradisi. Tetapi, pluralisme di sini bukan pluralisme teologis, melainkan pluralisme sosiologis. Islam dapat hidup dengan berbagai agama, ras, suku, dan aliran apa saja (Dr Hamid Fahmy Zarkasyi,2012:194-195).

Dr Anis Malik Thoha, Pakar Pluralisme agama, yang juga mustasyar Nu Cabang Istemewa Malaysia, Menyatakan bahwa Pluralisme agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap islam dan agama-agama lain. MUI melalui fatwanya tgl 29 juli 2005 menyatakan bawa paham pluralisme agama bertentangan dengan islam dan haram umat islam memeluk atau meyakini paham ini. MUI Mendefinisikan pluralisme agama sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebeneran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Dengan pluralisme agama, semua kemungkaaran ini dilegitimasi. pluralisme agama jelas membongkar islam dari konsep dasarnya. dalam paham ini, tidak ada lagi konsep mukmin, kafir,syrik, sorga, neraka dan sebagainya. karena itu, mustahil paham pluralisme agama bisa hidup berdampingan secaa damai dengan tauhi islam. sebab keduanya bersifat saling bertolak belakang ( Dr.Adian Husaini,2010:24).

Mukti Ali. Mantan Menteri Agama RI mengungkap beberapa pemikiran yang diajukan orang untuk mencapai kerukunan dalam kehidupan beragama. Pertama, sinkretisme, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama. Kedua, reconception, yaitu menyelami dan meninjau kembali agama sendiri dalam konfrontasi dengan agama-agama lain. Ketiga, sintesis, yaitu menciptakan suatu agama baru yang elemen-elemennya diambilkan dari pelbagai agama, supaya dengandemikian tiap-tiap pemeluk agama merasa bahwa sebagian dari ajaran agamanya telah terambil dalam agama sintesis (campuran) itu. Keempat, penggantian, yaitu mengakui bahwa agamanya sendiri itulah yang benar, sedang agama-agama lain adalah salah;dan berusaha supaya orang-orang yang lain agama masuk dalam agamanya. Kelima, agree in disagreement (setuju dalam perbedaan), yaitu percaya bahwa agama yang dipeluk itulah agama yang paling baik, dan mempersilahkan orang lain untuk mempercayai bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik. Diyakini bahwa antara satu agama dan agama lainnya, selain terdapat perbedaan, juga terdapat persamaan (A. Mukti Ali, 1992: 227-229).

Ali sendiri setuju dengan jalan agree in disagreement. Ia mengakui jalan inilah yang penting ditempuh untuk menimbulkan kerukunan hidup beragama. Orang yang beragama harus percaya bahwa agama yang ia peluk itulah agama yang paling baik dan paling benar, dan orang lain juga dipersilahkan, bahkan dihargai, untuk percaya dan yakin bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik dan paling benar.

Simpulan dalam pembahasan pada kali ini, dalam memahami sesuatu kita harus pahami hal tersebut secara menyeluruh, agar tidak ada kesalahan dalam kita menafsirkan sesuatu. Banyak hal yang akhirnya kita sampingkan dan abaikan namun hal tersebut yang akhirnya membelokkan kita dari jalan yang seharusnya. Dan Orang yang beragama harus percaya bahwa agama yang ia peluk itulah agama yang paling baik dan paling benar, dan orang lain juga dipersilahkan, bahkan dihargai, untuk percaya dan yakin bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik dan paling benar, mempersilahkan orang lain untuk mempercayai bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik pula dan hal ini menjadi jalan yang bisa ditempuh untuk menimbulkan kerukunan hidup beragama.

Wallahu alam bishwab

Annisa Ramadhani
(Al-Faqir)
20 Rabi’ul Akhir 1439 H

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *