ILMU DAN KEBENARAN

Oleh: Ahmad Firdaus

Salimunj.com- “Kebenaran itu relatif”, ujar mahasiswa semester dua yang baru saja lulus mata kuliah Pengantar Filsafat. Di sisi yang lain, ada mahasiswa “genit” yang justru kemudian berujar; “Kami yang moderat, mereka radikal. Kami ahlussunah, mereka wahabi.” Orang pertama, menganggap bahwa kebenaran itu bergantung pada siapa mengatakan dan siapa yang mempercayainya. Dengan maksud, kebenaran itu tergantung pada kepercayaan, bahkan selera masing-masing orang. Orang kedua, justru terkungkung dalam definisi yang sempit mengenai kebenaran. Padahal seharusnya, kebenaran itu bersifat objektif. Apa adanya.

Dalam menjawab dua kondisi di atas, marilah kita beranjak pada pertanyaan yang agak “klise”; apa itu kebenaran? Bisakah manusia mencapai kebenaran? Pertanyaan ini tentu saja berangkat dari asumsi bahwa kebenaran itu ada. Tetapi, mari pertama-tama kita tegaskan bahwa ilmu dan kebenaran itu berada dalam satu gerbong yang sama. Seseorang yang berilmu bisa dikatakan sebagai seseorang yang mengetahui kebenaran. Karena ilmu adalah mengetahui yang benar, dan pengetahuan mengenai yang benar tentu saja itu sebuah ilmu.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa hidup dalam mengandalkan kepercayaan subjektif. Kita hidup, pada akhirnya, akan merujuk pada pengetahuan yang secara objektif semua orang anggap benar. Ada banyak sekali kebenaran di sekitar kita. Misalnya, kita tahu bahwa ikan itu hidup di air dan tidak bisa memanjat pohon, Jokowi itu presiden, UNJ ada di Rawamangun, 2 + 2 = 4, daun itu hijau dan banyak hal lainnya. Semua ini adalah kebenaran. Semua hal itu juga bisa dibuktikan dan diuji kebenarannya. Lalu teranglah bagi kita, bahwa ternyata bukan hanya Tuhan yang bisa mengetahui kebenaran, tetapi manusia juga bisa mengetahui kebenaran.

Tetapi, mengapa dalam kehidupan masih banyak orang yang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, kebenaran itu tidak ada, hanya Tuhan yang bisa mengetahui kebenaran dan manusia tidak? Mengapa banyak orang mengingkari kebenaran? Mengapa juga ketika bicara tentang kebenaran agama, ada orang yang menganggap semua agama itu sama-sama benar dan sama-sama baiknya? Bukankah konsep “benar” itu ada, karena adanya konsep “salah”? Ketika seseorang berujar “semua agama benar”, disisi yang lain, ia juga secara tak langsung sedang berkata bahwa “semua agama itu salah”. Karena, tidak akan ada kebenaran jika semuanya benar. Dan tidak ada kesalahan jika semuanya salah.

Sikap negatif terhadap ilmu, atau kebenaran sebenarnya sudah setua umur manusia. Secara umum, dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu (1) Skeptisisme, (2) Relativisme, dan (3) Agnostisisme. (Arif, 2016: 2) Kesemua sikap tersebut memiliki cara yang khas dalam memandang kebenaran.

Skeptisisme
Skeptisisme berasal dari bahasa Yunani skepsis, berarti pandangan akal, nalar, spekulasi, merupakan sikap yang meragukan kebenaran suatu pernyataan secara mendasar dan menyeluruh. Skeptisisme, tidak sama dengan sikap mencari kebenaran untuk meyakinkan atau menentramkan hati. Oleh sebab itu, Nabi Ibrahim ‘alayhissalam tidak termasuk orang yang skeptis, sebab ketika beliau ditanya oleh Allah; “Apakah engkau belum percaya? (awalam tu’min)” beliau menjawab: “Sudah barang tentu (aku percaya) akan tetapi (aku bertanya) supaya hatiku tentram (bala wa-lakin li-yatmainna qalbi).” (Arif, 2016: 3)

Seseorang yang skeptis, akan meragukan banyak hal. Bahkan, bisa saja meragukan keberadaan dirinya sendiri. Ia tidak hanya meragukan kebenaran suatu pernyataan atau ucapan seseorang, bahkan bisa sampai pada menolak kemungkinan benarnya sama sekali. Artinya, orang yang skeptis, akan bertahan pada pendapatnya sendiri terlepas suatu pernyataan bisa dibuktikan kebenarannya. Ia akan tetap meragukan orang yang mengeluarkan pernyataan, meskipun seseorang itu bisa membuktikan kebenaran ilmiah dari pernyataannya.

Relativisme
Sikap kedua, adalah relativisme. Jika seorang yang skeptis bisa menolak semua klaim kebenaran. Orang yang relativis, justru menerima semua pandangan kebenaran. Dalam pandangan orang yang seperti ini, tidak ada pendapat yang salah. Semua pendapat adalah benar. Termasuk di dalamnya kebenaran agama, aliran, pemikiran, mazhab, itu sama-sama benarnya. Yang membedakan hanyalah sudut pandang, framework, dan persepsi masing-masing. Bagi penganut relativisme, kebenaran itu ada dimana-mana, meskipun kebenaran itu sendiri relatif. (Arif, 2016: 5) Benar-salah, baik-buruk, sopan-tidak sopan, bermoral-tidak bermoral, bukan manusia yang berhak menentukannya. Karena semua hal adalah relatif, dan relatif.

Pluralisme, adalah “anak ideologis” dari relativisme itu sendiri. Jika ada seseorang yang mengatakan “semua agama itu benar”, maka kita patut bertanya dengan serius; sudah berapa agama yang ia teliti? Bagaimana menyamakan antara konsep tauhidullah dalam Islam, dengan konsep trinitas dalam agama Kristen, yang jelas-jelas kontradiktif? Untuk menyamakan dua konsepsi agama saja, sulitnya bukan main. Dan bahkan, tidak mungkin. Di dunia ini ada ratusan, bahkan ribuan agama. Bagaimana menyamakan pandangan agama-agama itu mengenai Tuhan, manusia dan alam semesta?

Agnostisisme
Sikap ketiga disebut agnostisisme. Seorang agnostik akan berpikir bahwa kebenaran hanya dapat dicari dan dihampiri, namun mustahil ditemukan. Seorang yang agnostik akan menolak ilmu, mengingkari kemungkinan manusia mengetahui ada atau tidaknya sang Pencipta. Agnostisisme adalah sikap intelektual yang intinya mengatakan bahwa tak seorangpun dapat membuktikan secara objektif kebenaran suatu pernyataan kecuali ia bisa menunjukkan bukti yang secara logis membenarkan keyakinannya itu. (Arif, 2016: 6) Orang yang agnostik memandang bahwa kebenaran tertinggi (misalnya Tuhan) tidak dapat diketahui atau mungkin tidak akan dapat diketahui sama sekali. Orang yang agnostik, bisa saja secara bersamaan akan percaya Tuhan, namun tidak percaya terhadap agama-agama.

***

Dalam tradisi intelektual Islam, skeptisisme tidak mendapat tempat. Alquran menyebut orang-orang yang tidak beriman kepada Allah itu asyik “bermain-main dalam keraguan”. (QS 44: 9) Keraguan adalah sejenis ketidaktahuan, atau kebodohan, kendati ia lebih sempit dari kejahilan. Setiap orang yang ragu-ragu itu tidak tahu, meski tidak semua orang jahil itu tidak tahu. Ayat lain dalam Alquran (QS 6: 25) menyinggung orang-orang yang menolak kebenaran walaupun semua bukti telah ditunjukkan padanya. Sikap inilah yang disebut sombong, angkuh, merasa benar dan hebat.

Ilmu dan Kebenaran
Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu. Orang-orang yang berilmu (‘ulama) bahkan diberikan predikat sebagai pewaris para Nabi. Dalam Alquran, banyak sekali ayat-ayat yang mengatakan: “afalaa tatafakkaruun, afalaa ta’qiluun, afalaa ta’lamun,´afalaa tubshiruun,” Dan sekian banyak ayat yang menyatakan keutamaan sebuah ilmu, termasuk di antaranya perintah untuk mencari ilmu. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. (QS. 58: 11) Tidaklah sama antara orang-orang yang berilmu dan yang tidak berilmu, dan hanya orang-orang berakal yang bisa mengambil pelajaran. (QS. 39: 9). Banyak pula hadits-hadits Nabi yang mendorong muslim untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu sama dengan meretas jalan menuju surga. Allah akan memudahkan jalan seseorang yang memiliki ilmu menuju syurga. Islam juga telah membentuk suatu khazanah keilmuan yang gemilang, dengan wahyu sebagai basis pemikirannya. Wahyu kemudian dielaborasi menjadi konsep-konsep keilmuan di berbagai bidang dalam Islam. Dengan ilmu pulalah umat Islam membangun pandangan hidup (worldview) yang kemudian menata sebuah peradaban (civilization).

Ilmu atau dalam bahasa Arab disebut dengan ‘ilm yang bermakna pengetahuan merupakan derivasi dari kata kerja ‘alima yang bermakna mengetahui. Secara etimologi, ilmu berasal dari akar kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah, yaitu ma’rifah (pengenalan), syu’uur (kesadaran), tadzakkur (pengingat), fahm dan fiqh (pengertian dan pemahaman), _‘aql_ (intelektual), diraayah dan riwaayah (perkenalan, pengetahuan, narasi), hikmah (kearifan), ‘alaamah (lambang), tanda atau indikasi yang dengan sesuatu atau seseorang dikenal. (Alfaruqi 2015: 225)

Ibnu Khaldun memilah ilmu atas dua macam, yaitu ilmu naqliyah (ilmu yang berdasarkan pada otoritas atau ada yang menyebutnya ilmu-ilmu tradisional) dan ilmu ‘aqliyah (ilmu yang berdasarkan akal atau dalil rasional). Termasuk yang pertama adalah ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, tafsir, ilmu kalam, tasawuf, dan ta’biir al-ru’yah. Sedangkan yang kedua adalah filsafat (metafisika), matematika, dan fisika, dengan macam-macam pembagiannya. (Kartanegara 2005: 46) Al-Attas mengklasifikasikan ilmu berdasarkan hakikat yang inheren dalam keragamaan ilmu manusia dan cara-cara yang mereka tempuh untuk memperoleh dan menganggap kategorisasi ini sebagai bentuk keadilan dalam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai objek dan manusia sebagai subjek. Dalam klasifikasinya, al-Attas membagi ilmu dalam dua bagian, yaitu ilmu iluminasi (ma’rifah) dan ilmu sains. Dalam bahasa Melayu yang pertama disebut dengan ilmu pengenalan dan yang kedua disebut dengan ilmu pengetahuan. (Al-Attas 2001: 52)

Disinilah pentingnya kita membuat kategorisasi pengetahuan menjadi tiga jenis; (Arif 2016: 9) Pertama, pengetahuan yang sifatnya ‘benar-benar mutlak’ (absolutely absolute), yaitu pengetahuan Allah yang Maha Mengetahui dan sumber segala ilmu, seperti pengetahuan bahwa setiap yang bernyawa itu akan merasakan mati; Kedua, pengetahuan yang sifatnya mutlak secara nisbi (relatively absolute), yaitu pengetahuan manusia secara kolektif, intersubjektif, dan akumulatif, seperti pengetahuan kita bersama bahwa Rasulullah adalah orang Arab, bahwa bumi itu bulat, bahwa cahaya itu gelombang sekaligus partikel; dan ketiga, pengetahuan kita yang sifatnya ‘nisbi secara mutlak’ (absolutely relative), yaitu segala pengetahuan yang masih berupa opini, asumsi, pendapat atau kesan pribadi, yang belum diuji, belum terbukti, tidak dikuatkan oleh kesaksian orang lain, dibenarkan oleh ahli, atau disahkan oleh yang telah dan sama mengetahui.

Itulah mengapa, seringkali apa yang dianggap orang sebagai ilmu, dalam Islam, belum tentu itu ilmu, atau memenuhi syarat sebagai sebuah ilmu. Islam juga tidak mngajarkan kita untuk mengingkari kebenaran, baik yang berasal dari penelitian , persepsi, pengalaman maupun hal yang dibawa oleh akal melalui penalaran, perenungan dan penilaian. Namun, tidak juga menolak wahyu Tuhan kepada Nabi-Nya sebagai sumber ilmu yang sah dan pasti kebenarannya.

Ilmu jugalah yang menjadikan seseorang berani berkata benar. Menolak sesuatu yang salah. Satu hal yang pasti, keilmuan akan selaras dengan kebenaran. Dan kebenaran, akan membimbing seseorang kepada keimanan. Artinya, ilmu harus menambah keimanan. Semakin berilmu seseorang, maka semakin taat ia pada Rabb-nya. Jika ada seseorang yang berilmu, namun tak bertambah keimanannya, maka bisa disimpulkan bahwa; ada yang salah dengan ilmunya, atau bahkan ilmu yang selama ini ia pelajari adalah ilmu yang salah.

Wallahu ‘alam..

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *