“ABI 212”, Realitas Kecacatan Narasi Pluralisme

Oleh: Alimatun Sadiah
———————————————————

“Paham Sekulerisme,Pluralisme dan Liberalisme bertentangan dengan islam dan haram bagi umat islam untuk memeluknya.”(Fatwa MUI, 2005)

Salimunj.com- Pluralis menjelma menjadi isme (baca:Pluralisme) dalam ideologi liberalis bersistem kapitalis, mengklaim ide kebebasan —pada aspek tertentu menerobos nilai-nilai; bukan hanya islam, tapi semua agama— atas keberagaman manusia dari sisi fitrahnya. Narasi pluralisme yang bergema sesungguhnya tidak diakui dalam lensa keislaman sebagai paham yang lurus, tentu berbeda dengan diakuinya pluralitas yang jelas Allah firmankan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.” (Qs. Al-Hujurat:13)

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Ruum:22)

Ini sejalan dengan pluralitas yang juga diakui dalam kepemimpinan Rasulullah SAW ditengah masyarakat yang plural. Pluralitas memanglah sebuah realitas sebagaimana fitrah Allah atas kehidupan manusia, namun pluralisme?

Dalam konteks kemajemukan Indonesia, ide ini diklaim kaum pluralis sebagai gagasan untuk mempertipis garis perpecahan antar etnis, budaya, agama maupun perbedaan-perbedaan yang dapat menjadi sebab musabab terjadinya konflik atas nama perbedaan tersebut. Pluralisme —atas nama perlunya toleransi, demokrasi, pengakuan terhadap perbedaan,aturan hukum, dan menjaga kesatuan Indonesia—, yang selanjutnya oleh beberapa pengamat sosial disebut sebagai narasi pluralisme.

lebih sering ditujukan hanya kepada umat islam selaku mayoritas untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan kemasyarakatan. Sehingga jika sedikit saja terjadi gesekan atasnya, brand “Intoleran, Radikal, dan konservatif” telah siap dicap dan diteriakkan begitu keras terhadap islam.

Kasus-kasus berbau pelanggaran SARA oleh oknum muslim terekspos begitu jelas dibanding oleh oknum diluar identitas muslim. Begitupula Isu-isu radikalisme, terorisme, hingga ujaran kebencian yang diidentikkan dengan wajah islam merupakan tools momentum bagi musuh islam untuk merusak citra islam melalui sekelompok oknum. Hingga brand radikalisme seolah-olah secara absolut identik dengan islam yang justru memaknai islam sebagai agama komprehensif. Disini, para pemegang kuasa seolah mempunyai standar ganda dalam memberikan brand “Intoleran, maupun radikal” terfokus hanya pada islam.

02 Desember 2016 lalu, setidaknya ada sebuah realitas dari ide pluralisme yang dijunjung oleh berbagai aktor merentang dari Jaringan Islam Liberal (JIL), hingga aktor negara seperti Kementrian Agama dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ternodai oleh salah satu pejabat pemerintahan yang sejatinya memegang beban moral tersendiri untuk tidak melanggar kebijakan yang mereka buat sendiri; Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama dan Pasal 156a dalam KUHP.

Masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana mantan Gubernur DKI Jakarta petahana Ahok yang menggulirkan bola panas umat islam dengan statementnya mengenai Qur’an Surah Al-Maidah:51 pada 2016 lalu. Selanjutnya dikenal dengan Aksi Bela Islam 411 dan 212. Aksi ini diamini sebagai tanda kerapuhan narasi pluralisme. (Alvian, 2016)

Kebersatuan umat islam atas pelecehan islam yang didorong dengan narasi-narasi rasa identitas keberislaman merefleksikan kerapuhan narasi pluralisme ditengah meluasnya ketimpangan dan ketidakpastian didalam masyarakat. Ketimpangan dan ketidakpastian ini berupa penegakan sanksi atas tersangka Ahok selaku penista agama.

Sebagaimana Laclau dan Mouffe menyebutnya sebagai “dislokasi”, yakni ketika timbul jarak antara pengalaman sehari-hari masyarakat dengan narasi yang berusaha mengkerangkai pengalaman itu —narasi-narasi lain dapat masuk dan mengisi celah yang ditinggalkan oleh narasi pluralisme, singkatnya adalah narasi rasa cinta kepada identitas yang dianutnya, islam. Dalam beberapa jurnal para pengamat menyebutnya sebagai narasi sayap-kanan.

Narasi pluralisme yang berlindung atas nama toleransi, —oleh karenanya menurut mereka tidak ada agama yang satu-satunya benar, kebenaran relatif bagi semua orang— berhasil dibelokkan oleh narasi Aksi Bela Islam tentang isu toleransi, bahwa justru mereka yang menjaga umat Islam dari intoleransi Ahok.
Narasi tentang kelompok di balik Aksi Bela Islam yang suka menggunakan kekerasan ditampik dengan kenyataan bahwa aksi itu berjalan “super damai” dan bergerak dalam koridor demokrasi. Narasi tentang persatuan nasional juga diberi pengertian bahwa justru merekalah yang menjaga persatuan nasional dari kata-kata kasar Ahok.

Maka dari sini, Narasi pluralisme oleh kaum pluralis yang membawa dalih “toleransi, demokrasi, pengakuan terhadap perbedaan,aturan hukum, dan menjaga kesatuan Indonesia” untuk membuat semua kelompok setuju tentang narasi yang dibawanya: “semua agama sama”, “tidak ada agama yang satu-satunya benar” dan semua yang mendobrak garis-garis fitrah islam, terkalahkan dengan narasi aksi bela islam. Tanpa harus mendobrak garis-garis islam, dan nilai-nilai sosial keindonesian. Narasi aksi bela islam membuktikan bahwa toleransi harus diciptakan dan bahkan diperjuangkan tanpa harus menodai akidah islam itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Alvian, R. A. (2016). Ekonomi-Politik Aksi Bela Islam: Pluralisme dalam Krisis? Maarif, Vol. 11(2), 53–70.
Garadian, E. A. (2017). Membaca Populisme Islam Model Baru. Studia Islamika, 24(2), 382–381.
Husaini, A. (2010). Pluralisme agama: Musuh Agama-agama. Da’wah Islamiyah Indonesia. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Diambil dari http//www.adianhusaini.com
Rais, A. I. M., & Bagir, Z. A. (2016). “Setelah ‘Bela Islam’:Gerakan Sosial Islam, Demokratisasi, dan Keadilan Sosial.” MAARIF: ARUS PEMIKIRAN ISLAM dan SOSIAL, Vol. 11(2), 12.
Rumahkitab. (2017). Seminar “Membaca Islam Indonesia Paska Aksi Damai 212.” Jakarta. Diambil dari http://rumahkitab.com/seminar-membaca-islam-indonesia-paska-aksi-damai-212/

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *