PENJARA DAN SEJARAH

Oleh: Ahmad Firdaus

“Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi keinginan mereka kepadaku….”
(Qs. Yusuf: 33)

Kita tahu betul bagaimana akhir kisah Yusuf ‘alaihissalam. Ia masuk penjara karena melakukan hal yang benar. Ia dipenjara karena memperjuangkan kebenaran. Maka, tak pernah ada kesedihan di raut wajahnya, dan tak pernah ada penyesalan dari diri Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam. Karena baginya, penjara adalah khalwat terindah dengan Rabb-nya.

Al-Quran pun mengisahkan, tak ada bukti-bukti yang menguatkan sehingga Ia layak untuk dipenjara. Bahkan saksi ahli telah menyatakan jika baju Nabi Yusuf ‘alaihissalam robek di bagian depan, maka Ia yang bersalah. Namun jika robek di bagian belakang, maka Ia termasuk orang yang benar. Faktanya, baju tersebut robek di bagian belakang. Membuktikan bahwa Yusuf ‘alaihissalam tidak bersalah.

Tetapi, logika kekuasaan telah berkata. Tidak ada logika pengadilan. Yang ada adalah logika kebencian. Karena Yusuf ‘alaihisalam adalah ancaman. Ancaman, karena “sok suci”. Ancaman, karena terlalu memegang teguh idealismenya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabuut: 2). Begitulah sunnatullah dalam perjuangan. Siapapun, yang berusaha memperjuangkan kebenaran, maka adalah kepastian bahwa ia akan diuji. Sebab disinilah pembuktian siapa yang berpura-pura berjuang, dan siapa yang bersungguh-sungguh. Disinilah peneguhan siapa yang berada pada jalur al-haqq dan al-bathil.

Wamakaruu wa makarallah, wallahu khairul makirin. “Mereka membuat tipu daya (makar), dan Allah membalas tipu daya (makar) mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” Maka Allah selamatkan Yusuf ‘alaihissalam dari jurang terdalam. Sejarah membalik. Takdir akhirnya membela dan menyelamatkan Yusuf ‘alaihissalam. Ia menjadi orang besar dalam sejarah. Allah mengokohkan kedudukannya di muka bumi. Demikianlah. Sejarah akan selalu berpihak pada kebenaran dan orang-orang yang benar. Dan kebenaran akan selalu menemukan dirinya sendiri, sebagaimanapun ia coba disembunyikan.

Yusuf ‘alaihissalam, adalah satu dari sekian banyak orang-orang shalih yang diuji oleh Allah melalui penderitaan. Bahkan harus mendekam di penjara, hingga harus menjemput kesyahidan karena memperjuangkan agama Allah. Imam Syafi’i rahimahullah, tangan dan kakinya pernah dirantai kemudian dibawa menghadap pemerintah dan hampir saja dikenakan hukuman pancung, karena dituduh sebagai pemecah belah masyarakat.

Imam Hanafi rahimahullah, ia ditangkap, dipenjara, disiksa dan dipaksa meminum racun oleh pemerintah dan setelah itu meninggal dunia karena beliau tidak setuju dengan dasar-dasar pemerintah saat itu. Imam Maliki rahimahullah, mendapatkan lebih dari 70 cambukan sepanjang hayatnya karena sering mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak penguasa. Imam Hambali rahimahullah, dipenjara hingga dirotan bagian belakang tubuhnya karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan kehendak pemerintah. Pemerintah menganggap mereka lebih benar dibandingkan para ‘ulama.

Sayyid Qutub rahimakumullah, seorang ‘ulama besar yang dikenal masyarakat Mesir, menjelang eksekusi matinya oleh pemerintahan Gamal Abdul Nasser, pernah didatangi saudarinya , Aminah Qutub, ke tempat ia dipenjara. Ia datang dengan membawa pesan dari penguasa Mesir yang meminta agar Sayyid Qutub sekadar membuat pernyataan sederhana yang berisi permintaan maaf kepada Gamal Abdul Nasser, lalu ia akan diampuni dan dibebaskan dari hukuman mati.

Maka, keluarlah kata-kata yang begitu monumental diucapkan Sayyid Qutub; “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thawaghit…”. Maka keputusan eksekusi pun akhirnya dijatuhkan. Ia mati sebagai syuhada, menemui Rabb-nya dengan senyuman terindah.

Penjara… tak selamanya menjadi tempat yang hina. Justru disanalah, menjadi tempat khalwat terindah seseorang dengan Tuhannya. Bahkan tak jarang, karya besar justru lahir dari balik jeruji penjara. Sayyid Qutub, menyelesaikan sebagian besar dari tafsir Fii Zilalil Quran justru ketika ia berada di dalam penjara. Di Indonesia, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Sjafrudin Prawiranegara, juga melahirkan karya-karya besar ketika mereka berada di dalam penjara dan ketika diasingkan.

Ihsan, Wildan, dan sederet nama aktivis BEM SI yang dikriminalisasi adalah versi lain dari drama Yusuf ‘alaihissalam. Kelak, kita semua akan sama-sama tahu bagaimana kisah mereka berakhir. Mereka (insyaallah), akan menjadi pembesar di Republik ini. Menjadi pemimpin yang hanya takut kepada Allah, dan berani kepada otoritas lain selain Allah.

Dulu, saya pernah bercita-cita ingin dipenjara karena melawan rezim yang zhalim ini. Bahkan syahid ketika memperjuangkan kebenaran. Betapa irinya saya dengan kalian. Disaat banyak orang terjebak dalam kesadaran palsu, menganggap rezim ini adalah ‘titisan dewa’ yang tak mungkin salah, namun kalian tetap berani mengatakan kebenaran adalah kebenaran, dan kebhatilan adalah kebhatilan.

Disaat ribuan, bahkan jutaan orang telah tertipu oleh kekuasaan, harta, jabatan, namun kalian telah membuktikan keteguhan diri. Menolak tunduk pada kekuasaan. Menolak menyerah pada kemunafikan. Dan kalian… telah memiliki hujjah yang jelas di hadapan Allah nanti, ketika Ia bertanya apa yang sudah engkau lakukan untuk melawan kemungkaran.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, bahwa; tirani akan ditundukkan, dimanapun ia berada.

Wallahu ‘alam..

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *