Tangis yang Mengajarkan

Resume Buku Air Mata di Jalan Dakwah – Karya, Umar Hidayat
Episode 1
Oleh: Sayyidatu Lutfiyah

Tangis yang Mengajarkan
Meneladani kisah Rasullah dan Abdullah bin Mas’ud ketika beliau diminta Rasulullah membacakan Al Qur’an untuknya. Dan Ibnu Mas’ud pun membacakan surah An Nisaa, ketika sampai pada ayat ke-41 –
“Maka bagaimana sekiranya kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu”
Ketika itu pula Ibnu Mas’ud mendapati Rasulullah menangis terisak-isak, hingga janggutnya basah dengan air matanya.
Tangisan kekasih Allah yang sangat syahdu itu menjadi saksi atas rasa khawatir dan takut Rasulullah akan nasib umatnya setelah ketiadaa dirinya.

Rasulullah meminta pengampunan kepada Allah. Tak dapat dipungkiri bahwa umat terbaik adalah mereka yang bersanding langsung dengan kehadiran Rasulullah. Merekalah generasi terbaik yang senantiasa dalam dekapan tarbiyah dan kasih sayang Rasulullah. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun atas nasib dan perilaku para sahabatnya lantaran mereka masih disaksikan beliau.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang hidup pada masaku (periode sahabat), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (tabi’in), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (tabi’ut tabi’in). setelah itu, akan datang orang-orang yang memberikan kesaksian, padahal mereka tak dimintai kesaksian; mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya; mereka bernadzar, tapi tak melaksanakannya; dan di antara mereka tampak gemuk.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sungguh besarnya kekhawatiran Rasulullah kepada umatnya– khawatir apabila umatnya tak sanggup menahan diri akan ketamakan dan harta dunia sepeninggal dirinya. Dapat kita renungi sebesar apa kekhawatiran Rasulullah kepada umatnya, seperti yang dikisahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim: Rasulullah SAW pernah bersumpah, “Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian adalah apabila telah dibukakan (harta) dunia kepada kalian sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari)

Jika air mata Saudara mulai menetes, tergetarnya dua bibir – sesaknya hati karena merindu, itulah air mata di jalan dakwah, tangis yang mengajarkan kita sebagai umatnya. Besarnya cinta Rasulullah kepada kita – umatnya, hingga hati dan air mata ini pun tak sanggup menampung besarnya cinta dari kekasih Allah ini. Cinta yang melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, cinta yang senantiasa disaksikan Sang Khaliq. “Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku” do’a Rasulullah kepada Sang Pemilik cinta. Hingga di akhir hidupnya, Rasulullah masih saja memikirkan umatnya.

Kelembutan jiwa Rasulullah – atas izin Allah, apakah tidak mungkin beliau ditakdirkan untuk meneropong kehidupan umatnya sepeninggal dirinya di muka bumi ini. Agaknya begitulah rahasia dari fenomenal tangisan dan kekhawatiran Rasulullah terhadap nasib umatnya. Sejarah pun membuktikan dengan jelas bagaimana kondisi umat Islam sepeninggal Rasulullah. Bahkan, sekarang ini kita merasakan sendiri kondisi umat Islam yang semakin mudah dipecah belah, hidup dalam bayang-bayang musuh dan beginilah nasib umat Islam pasca-kejayaan Islam redup.

Air mata dari harapan untuk segera lepas dari redupnya umat Islam saat ini. Mencari jalan yang harus ditempuh, bertahan dan menyelesaikan ujian-ujian dalam hidup, hingga senantiasa mempersiapkan bekal-bekal untuk mencapai kemenangan itu.

Jalan-jalan yang dilalui untuk mencapai kemenangan itu tak begitu saja mulus, ada liak-liuk, onak dan duri yang mungkin dapat menghentikan harapan dan semangat di awal itu. Hanya orang-orang yang dipenuhi azam yang kuat dan senantiasa bersungguh-sungguh meminta hidayahNya-lah yang sanggup mengarungi jalan dakwah ini.

Tak seperti air mata Rasulullah, tak seperti tangisan syahdu Rasulullah. Namun, air mata ini pun menjadi saksi akan besarnya problematika yang akan terus kita hadapi di kehidupan ini. Problem yang dapat menjadi 2 sisi yang bertolak, apakah problem itu semakin menjadikan keimanan ini kuat atau sebaliknya, keimanan kita tenggelam karena tak dapat menyatunya iman dan perbuatan kita dalam menyelesaikan problem yang datang. Problem yang tak hanya kita rasakan sendiri, problem yang bukan hanya kita hadapi sendiri, namun problem yang lebih luas lagi. Problem yang menggores seluruh umat Islam, problem yang harus kita selesaikan bersama. Disini pun pasti ada air mata yang menetes lagi, pertanyakanlah iman kita – ketika taka da lagi rasa peduli atas penderitaan Muslim yang lain. Jika air mata kau menetes lagi, itulah air mata di jalan dakwah; air mata atas kepedulian terhadap umat yang menandakan ekspresi keimanan kau.

Banyak tangis para nabi yang dapat kita ambil hikmahnya. Air mata kenabian yang dapat mengajarkan banyak hikmah. Tangis Nabi Muhammad yang menegaskan kepedulian terhadap umat. Tangis Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang mengekspresikan cinta kepada anaknya dalam limpahan ketaatan kepada Allah.

Selancar Gelombang Air Mata Para Sahabat
Kemudian apa yang menjadi air mata ini terus hadir dalam perjalanan dakwah kita. Jika kau menangis karena rasa lalai terhadap perintah Allah, lalai karena selalu mengindahkan hiasan-hiasan dunia dan lupa akan bekal akhirat, maka menangislah – hingga tangisan itu mendorongmu untuk selalu bertaubat dan berbuat yang lebih baik lagi. Dan apabila air matamu mengalir karena kesyahduan kau berdekatan dengan Dzat-Nya maka menangislah hingga rasa di hatimu ditenangkan oleh cintaNya. Seperti air mata para sahabat, mereka tak pernah meneteskan air matanya karena urusan dunia – menangis karena tak punya harta. Namun, kelembutan hati dan besarnya cinta serta ketaatan pada Allah sajalah yang mampu meneteskan air mata itu.

Banyak sekali kisah Rasulullah dan para sahabat yang dapat kita ambil hikmahnya. Dibalik kerasnya sikap Umar – sangat tegas terhadap kezhaliman, tubuh yang kekar dan senantiasa terlihat perkasa, ternyata beliau sangat mudah untuk menangis hingga tersedu-sedu bila berdiri ketika shalat menghadap Rabbnya atau saat berdzikir menyebut asmaNya. Abu Bakar yang sangat lembut perwatakannya, berhati-hati dengan segala usulannya, ternyata bisa menangis tersedu bersama Rasulullah karena kekeliruan yang dibuat. Ketika Rasulullah lebih setuju dengan usulan Abu Bakar yang terkesan lebih bijak dengan memaafkan tawanan Perang Badar dan menerima tebusan dari mereka. Dan turunlah ayat 67-68 dalam Al Anfaal, cara Allah menegur Rasulullah atas pilihan yang diambilnya. Melihat kesedihan Rasulullah dan Abu Bakar, maka berkatalah Umar, “Katakanlah padaku, apa gerangan yang membuat kalian berdua menangis. Jika ku dapati alasan untuk menangis maka aku akan ikut menangis. Tapi jika tidak ada alasan untuk menangis maka aku tetap akan ikut menangis bersama kalian.” Ya, tidak sekedar simpati atau empati kepada orang lain tetapi lebih dalam lagi untuk memahami, berbagi, dan saling menanggung.

Sosok lain lagi adalah Muhammad Al Fatih beliau adalah penakluk konstantinopel. Beliau adalah seorang pemimpin yang sangat ulet dan perkasa di medang pertempuran, namun tetap dapat menangis tersedu-sedu saat mengadu kepada Allah di malam harinya yang sepi – dikemah sederhananya. Beginilah air mata kesedihan yang mampu menjadi penguat dalam menaklukkan musuh-musuh dalam peperangannya. Menangis bukanlah tanda lemahnya jiwa seorang hamba. Boleh jadi itulah bahasa interaksi yang paling kuat dengan Rabb kita meski otak kita sulit memahaminya. Air mata akan selalu jujur pada waktunya. Air mata bisa menjadi cermin kedalaman jiwa, kepekaan jiwa, dan kepribadian kita. Menangislah jika itu menyangkut urusan umat, menangislah jika itu adalah luapan kepedulian kita kepada urusan saudara-saudari kita.

Bila Alam Mulai Menyapa
Atas izin Allah alam ini telah Ia jadikan keberkahan bagi manusia, baik dari langit maupun dari bumi. Banyak sekali limpahan karunia Allah yang dapat kita manfaatkan kehadirannya. Air mata di jalan dakwah, bila alam mulai menyapa; inilah Islam yang sangat memperhatikan kelestarian lingkungan. Karenanya, semakin kuat iman seseorang, semakin baiklah perhatiannya terhadap lingkungan. Dakwah yang mampu mengajarkan kita untuk merespon sapaan alam ini. Bila ada kearifan terhadap alam, maka alam pun dengan santun menyapa kita. Namun jika kita merespon dengan kekerasan hati dan kebinasaaan, maka alam pun tak akan lagi bersahabat dengan kita. Menangislah atas rasa syukur kepada Allah, menangislah karena takjubnya mata melihat sapaan yang begitu indah dari alam semesta ini. Dan jangalah kita menangis karena penyesalan atas apa yang kita perbuat terhadap alam yang sudah begitu marah akan sikap keras kita. Ketika alam sudah tidak ingin menyapa dengan santun, ketika alam sudah marah dan merespon kita dengan kebinasaan pula. Berhati lembutlah kepada alam sekitar kita, dengan begitu kita pun akan direspon dengan kelembutan pula oleh alam ini.

Dunia Bersenandung Air Mata
Kita adalah bagian dari masyarakat, bahkan masyarakat dunia. Islam tidak memperkanankan umatnya hanya untuk disibukkan dengan urusan dirinya sendiri. Kita diciptakan untuk saling menguatkan sesama Muslim; bagaikan satu bangunan yang kokoh. Jadi sudah sewajarnya kita saling membantu. Dan air mata di jalan dakwah, ketika dunia berkabung dengan banyaknya mata yang menangis.

Menangis karena kehilangan jiwa-jiwa yang dicintai, jika ini alasan menetesnya air mata kita maka menangislah. Jadi air matamu menjadi tangisan perpisahan saja, bukan tangisan yang menyalahi takdir Allah. Jangan sampai kita menangis karena merasa sedih kehilangan dunia, harta, jabatan. Dan mungkin menangis karena kebanyakan harta. Semua inilah air mata yang mungkin saja terjadi dalam diri kita dan menjadi air mata yang bersenandung di dunia ini.

Penting untuk diingat bahwa mencintai harta dan kedudukan dunia secara berlebihan merupakan fitnah dan godaan yang akan menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan. Maka jadikanlah air mata di jalan dakwah ini menjadi air mata karena iman dan takwa yang selalu tertanam dalam kehidupan kita.

Nisan Berselimut Duka
Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan sesudahnya itu adalah orang yang paling cerdas. Kematian itu sebuah kepastian. Kepastian yang mengharuskan hidup kita menjadi kehidupan yang terbaik amalnya. Air mata di jalan dakwah, dalam nisan berselimut duka, menjadi zikrul maut kita akan ketetapan Allah yang pasti itu. Dari air mata ini kita diajarkan untuk tidak berlarut dalam kesedihan atas dosa-dosa kita, akan kesalahan kecil yang kita perbuat atau bahkan menjadi air mata yang terus mengekang kita, sehingga jauh dari taubat dan melangkah untuk beramal. Namun jadikan air mata ini sebagai rem, pengontrol dan pelumas dalam kehidupan kita. Menangislah jika air mata ini kita jadikan rem ketika kaki ini ingin melangkah ke arah yang dimurkai Allah. Menangislah jika air mata ini kita jadikan pengontrol diri kita dalam arti kita senantiasa bermuhasabah atas kinerja kita menghabiskan waktu yang Allah kasih. Dan menangislah jika air mata itu yang menjadi pelumas atau motivasi diri kita menjalankan amal-amal terbaik kita.

Beginilah air mata yang menaklukkan, mengubah dan mengggugah hidup kita. Binashrillah

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *