Santri, Kita, dan Genealogi Pemenang

Oleh: Ahmad Firdaus
KaDept Kastrat LDK Salim UNJ

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”
(QS. Al-Fath: 1)

Ketika proklamasi keimanan diri seseorang memeluk Islam, secara bersamaan ia dituntut untuk berhijrah secara total. Ia dituntut untuk memproklamirkan hati, perasaan dan perbuatannya menjadi sepenuhnya berada dalam cahaya Islam. Lalu beranjak memperjuangkan kesadaran barunya itu dalam bingkai pandangan hidup Islam (worldview of Islam).

Islam adalah diin yang jauh lebih dalam daripada sekedar seperangkat aturan kerja yang bersifat mekanis. Islam bukan sekadar rumusan abstrak, atau hanya sekadar doktrin-doktrin surgawi yang menggumpal di otak. Tetapi, Islam adalah pandangan hidup, yang menuntut bukti perjuangan dan pengorbanan pemeluknya. Diin al-Islam adalah gabungan antara ilmu, iman dan amal shalih. Iman adalah pohonnya, dan amal shalih adalah buahnya.

Di Indonesia, telah tertuliskan sejarah panjang tinta emas para pejuang kemerdekaan, yang mengobarkan semangat jihad, perlawanan terhadap kolonialisme, namun disaat yang bersamaan juga membekali diri dengan pemahaman agama yang benar.

Lahirnya Indonesia, tentu takkan pernah bisa dipisahkan dari perjuangan panjang umat Islam yang telah dilakukan berabad-abad lamanya. Salah satu momentum sejarah yang mungkin takkan bisa dilupakan adalah ketika KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober, yang kemudian hari itu ditetapkan pemerintah sebagai Hari Santri Nasional. KH. Hasyim Asy’ari, yang ketika itu memimpin Majelis Syuro Masyumi, sekaligus Rois Am NU dengan segala kesungguhan mengeluarkan beberapa poin deklarasi mengenai kewajiban melakukan “jihad fii sabilillah” melawan penjajah yang hendak kembali menjajah Indonesia.

Sejarahpun mencatat, momentum Hari Santri Nasional, adalah pengakuan de facto dan de jure negara terhadap besarnya peran umat Islam dalam mempertahankan Republik, terutama peran para santri. Indonesia, ternyata juga memiliki begitu banyak Pahlawan Nasional yang berlatar belakang santri. Meskipun, pada zaman orde baru, sederet nama itu dan peran besar umat Islam bagi bangsa sengaja dihilangkan melalui proses pendidikan dan nativisasi (hinduisasi) sejarah Indonesia.

Akan tetapi, gen sejarah tidak pernah berbohong. Bangsa ini ada karena ditegakkan oleh semangat “jihad fii sabilillah”. Bangsa ini bisa berdiri atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, melalui keringat, air mata, tinta hitam para ulama dan merah darah para syuhada Republik. Kita ingat bagaimana perjuangan KH. Wahid Hasyim yang begitu keras memperjuangkan keseimbangan antara konsep ilmu agama dan ilmu lainnya.

Ada Jenderal Besar Sudirman, namanya harum hingga saat ini, yang tak pernah sekalipun meninggalkan teriakan takbir “Allahu Akbar!” dalam setiap peperangan yang dipimpinnya. Sejak kecil, Sudirman telah ditempa secara kemiliteran melalui organisasi berbasis dakwah, Hizbul Wathon. Ia adalah santri, sekaligus Panglima yang istimewa, dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat di dalam dadanya. Seorang jenderal yang shalih, menegakkan semangat jihad fii sabilillah dengan kesungguhan yang luar biasa.

“Insjaflah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnya) beloem pernah toeroet berperang (membela kebenaran dan keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafikan”, ucapnya melalui selebaran seruan kepada seluruh rakyat dan tentara.

Kita juga tahu bagaimana ijtihad Ki Bagus Hadikusumo, dkk, dalam merumuskan Pancasila. Ada KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang meneguhkan kepedulian terhadap sesama melalui sosial dan pendidikan. Kemudian, ada Bung Tomo yang dengan lantang menggelorakan “Allahu Akbar!” ke seluruh penjuru negeri pada perang suci di Surabaya. Membakar semangat arek-arek Suroboyo dan sekitarnya dengan deklarasi hidup mulia atau mati syahid, yang kemudian dibahasakan indah sekali dengan, “Merdeka atau Mati!”

Ingatlah bagaimana cintanya seorang Mohammad Natsir terhadap Republik ini pada tanggal 3 April 1950, yang akhirnya melahirkan “Mosi Integral” yang menyatukan kembali NKRI yang sebelumnya dipecah belah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) pasca Konferensi Meja Bundar. Berabad jauh sebelum itu, Imam Bonjol, Diponegoro, Fatahillah, Tjut Nyak Dien, Antasari, Kesultanan Demak, Cirebon, hingga Samudra Pasai telah lebih dahulu memulai ijtihad pembebasan dari kekuasaan manusia menuju otoritas Allah SWT.

Imam Bonjol, Diponegoro, Fatahillah, Fatahillah, Tjut Nyak Dien, Antasari, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, Jenderal Besar Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Ahmad Dahlan, Bung Tomo, hingga Mohammad Natsir, dan nama lainnya beserta seluruh mujahid pahlawan kemerdekaan, adalah sederet nama berjuang melawan melalui semangat “Allahu Akbar!”, dan kecintaan yang mendalam kepada tanah air dan bumi pertiwi mereka. Mereka tidak perduli dengan harta, bahkan jiwa mereka, yang bisa hilang dalam perlawanan. Mereka tidak takut, bahkan kematian di jalan terus mereka kejar. Sebab itulah cita-cita mereka, syahid sebagai jiwa-jiwa yang tenang di sisi Tuhannya.

Hari Santri Nasional, adalah momentum peneguhan kembali jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang memiliki “DNA” syuhada dan para pemenang yang telah mengorbankan segala potensi yang mereka punya. Kini saatnya kita, membalas kebaikan Allah, dengan bersungguh-sungguh mewarisi ilmu para ‘ulama dan semangat pengorbanan yang penuh cinta terhadap agama dan republik ini.

Akhir kata, saya teringat dengan perkataan Hasan Al-Banna; “Jadilah engkau seperti pohon mangga. Jika orang melempar, ia akan menjatuhkan dirinya kepada yang melempar.” Jadilah kita sebaik-baiknya pohon. Besar, meneduhkan, dan memiliki buah yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya.

Wallahu ‘alam..

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *