Palestina, Palestina ..

Dengan nyawa, dengan darah, kami bela engkau, Palestina..

Juni 2014
Pagi itu aku berlari menuju rumah sakit Al-Nasr. Menerjang gerombolan debu yang menggerus lantai bumi. Suara-suara bising dari helikopter Israel hampir membuatku gila. Heli itu melintas di langit Khan Younis, lalu terbang menuju Gaza Utara. Mereka seperti sedang patroli udara, atau sengaja membuat kami takut.

Kamp-kamp pemeriksaan juga mulai lebih ramai dengan bala tentara zionis,_lengkap dengan laras panjang yang membuat mereka terlihat sombong. Tidak jarang, mereka memarkir tank di beberapa titik. Seperti ingin melanggar keras batas teritori. Jujur, itu membuatku gusar.

Di rumah sakit, alat-alat medis telah siap. Jumlahnya lebih banyak. Di ruang paling pojok, terdengar suara dokter Jafar. Aku masuk, dan mendapati wajah-wajah yang cemas. Dengan sorot tajam, dan alis menukik. Mereka menatapku sekilas. Saling berjabat tangan-lempar senyum. Sebelum akhirnya, briefing dilanjutkan,_aku menarik nafas sejenak. Pasang telinga, untuk memahami jobdesk-ku jika waktunya tiba; Agresi Militer Israel.

Juli 2014
Pukul 08.20 pagi di bulan Ramadhan, suara gemuruh ledakan membuatku melompat dari tempat duduk. Berlari, berhambur ke luar rumah. Suara itu terdengar mengerikan. Di dahului suara bising udara dari ketinggian langit dan tembakan laser dengan tempo cepat dari pesawat yang melintas. Bermanuver di langit Khan Younis. Lalu berangsur-angsur bunyi letupan memburai angkasa. Disusul suara bongkahan bangunan yang menghentak keras. Seperti menggebrak lantai bumi. Suaranya bagai satu ton mercon yang pecah membumbung di udara. Mengalirkan gemuruh yang keras menghantam gendang telinga.

Di luar mulai gaduh oleh teriakan. Langkah kaki yang bergetar. Berpacu. Memburu. Dalam desah nafas ketakutan. Panik. Dan tak tahu harus pergi kemana. Semua orang berlarian. Menjauh dari pusat ledakan. Sementara gemuruh gedung-gedung yang hancur semakin keras. Kaca-kaca yang terpelanting. Pecah. Bising suara bom yang bergesekan dengan udara. Semua itu; terdengar mengerikan.
Asap-asap tebal mulai melapisi langit. Menjalar cepat. Bergelombang. Seperti letusan merapi yang pecah di lautan udara. Kilatan panas api yang terbakar mulai menjilati bangunan di kota Khan Younis. Membakar gedung-gedung di sekitar. Mengepulkan asap hitam pekat. Bongkahan bangunan mulai berserakan di beberapa titik. Menganga. Tertimbun berantakan. Berserak. Bagai lautan kota kematian.

Mobil pemadam mulai berdatangan. Suara sirinenya keras dan memusingkan. Ditambah dengan jerit kepanikan yang mendadak membuatku pusing. Membuat langkahku beku. Mual, dan Shock mendengar teriakan-teriakan Yaaa Allah!! Ataupun Allaaahu Akbar! Beberapa dari mereka berlarian mencari sumber air untuk memadamkan api yang membakar rumah-rumah di sekitar ledakan.

Tiba-tiba saja mobil ambulans berhenti di depan. Tempatku berdiri. Seseorang berteriak dengan keras; go to hospital! Aku berlari menuju mobil itu, masuk ke dalamnya yang sudah sesak, dan bau darah telah menyeruak. Ada seorang pria yang hampir pingsan, kakinya berantakan oleh darah dan luka. Di pelipisnya ada luka robek. Seperti sayatan serpihan beling yang menancap dalam. Seseorang membalut sebisanya. Memberi pertolongan pertama. Lekas-lekas aku membantunya.

Di depan Al-Nasr, mobil ambulans bergantian datang. Membawa orang-orang yang terluka, bahkan yang telah kehabisan nafas. Orang-orang di sekitar panik. Termasuk aku. Segera kulangkahkan kaki meluncur ke ruang UGD. Mengenakan masker dan seragam dokter. Kucek kembali jantung yang berdetak kencang, dan jemari yang bergetar hebat. Aku mencoba menguasai diri.

Cairan peluh menetes di sepanjang keningku. Membentuk titik-titik keringat yang panas. Kutatap sekitar lantai. Berantakan oleh darah, dan bekas perban. Baru kali ini, aku mual melihat darah dan lapis kulit yang tercabik. Telingaku ngilu mendengar jerit tangis dan teriakan. Meski teriakan yang keluar adalah asma Allah. Aku hampir gila setiap kali keluar ruangan, dan makin gila menghadapi puluhan pasien yang luka berat.

Nafasku terus memburu. Seperti belum siap dengan kondisi yang spontan ini. Penuh dengan orang-orang yang butuh penanganan medis. Dua dari sekian banyak pasien tidak berhasil diselamatkan. Yang satu serangan jantung. Satunya lagi kehabisan darah. Beberapa kali aku kehilangan fokus. Kelelahan. Dan mual dengan keadaan yang serba panik. Penuh kekacauan.

Di luar, sirine ambulans bersahutan. Orang-orang panik sambil membawa pasien yang terluka. Jumlahnya terus bertambah. Sementara tenaga medis mulai kewalahan. Beberapa kali aku tidak fokus. Mau muntah.

“Dia patah tulang!” Seseorang berteriak dari depan pintu. Terus memacu hospital bed. Kulihat seorang pasien terluka berat. Ia pingsan. Tapi nadinya masih berdenyut. Cepat. Wajahnya begitu pucat. Seperti kekurangan darah. Kritis. Aku menghampiri orang itu dan menyuruhnya masuk ke dalam ruangan yang tadi kumasuki.

Dokter Furqan segera melakukan proses debridement. Ia mengelap darah yang mengalir dari permukaan kulit yang terluka. Lalu dengan cekatan ia membalut luka-luka itu. Luka sobekan yang lumayan dalam. Full Thickness. Di bagian kaki dan tangan. Bahkan ada dekstruksi di bagian tendon lengan kanannya. Serta goresan tipis, seperti luka insivum (luka sayat) di sepanjang pelipis. Membentuk tanda klinis di beberapa titik. Kubersihkan bagian pelipis tersebut, dan memberikan desinfektan secukupnya.

Beberapa lama kemudian, dokter Furqan memintaku mengurus tendon pasien. Sementara ia memeriksa kaki kanan orang itu. Melakukan diagnosis dengan X-ray (Sinar X). Untuk mengetahui bagian mana lebih tepatnya yang mengalami keretakan ataupun fraktur. Setelah terdiagnosis, dokter Furqan mulai bekerjasama denganku untuk mengobati patah tulang. Terjadi fraktur tulang tertutup di pergelangan kaki kanannya. Pembengkakan di punggung kaki, dan memar di permukaan kulit bagian tungkai. Dokter Furqan segera mengompres lapisan kulit yang memar. Ia berpikir sejenak. Kutatap titik-titik keringat yang menempel di dahinya.

Pria itu meletakkan kaki pasien dengan hati-hati. Berusaha membatasi gerak (immobilishing) daerah fraktur dengan gips. Membalutnya. Memberi penyangga di bagian bawah sampai ke betis. Setelah itu mengecek kembali keadaan korban. Serta berpikir sejenak untuk melakukan operasi pembedahan. Dia menyuruhku keluar, ke kamar lain. Sampai pasien di kamar ini siuman.

***
Sudah hampir senja, aku masih sibuk membalut perban, dan mengobati persendian yang patah. Para pasien itu.. kebanyakan anak-anak dan orang tua.
Sedetik.. dua detik.. azan berkumandang lirih. Sang muadzin mengisak pedih ketika mengucap hayya alal falaah..

Marilah menuju kemenangan…

Dadaku sesak. Ingin memeluk Palestina.
***

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *