Bedah Karya Pemenang Gebrak Edisi 1

Kadang saya berpikir. Kita ini ada di bawah pengaruh sugesti LKS jaman SMP yang mewajibkan unsur esai seperti tata cara pernikahan. Kita sebut saja ini sebagai korban LKS. Di sisi lain, kemalasan kita membaca membuat tulisan kita berisi teriakan hal yang sama berulang-ulang.

Kali ini temanya berhubungan dengan Al-Qur’an. Tantangannya adalah, bagaimana membuat pesan yang ada, tidak menjadi teks khotbah, sekaligus tidak menjadi teks yang malah mengurangi kemuliaan Al-Qur’an.

Di sini, Romie berhasil melampaui itu. tafsir ayat-ayat kisah surat Al-Kahfi yang berkisar mengenai Dzulqarnain, bisa disampaikan dengan efektif. Kalimat-kalimatnya tidak skriptif. Ia menjelaskan apa yang didalamya dengan satu dua kalimat tapi berkecukupan.

Tafsir Surat Al-Kahfi pada kisah Dzulkifli biasanya hanya akan diperdebatkan orang pada masalah tanda-tanda kiamat, Ya’juj dan Ma’juj. Tanpa sedikitpun mereka menyentuh persoalan sisi kepemimpinan Dzulqarnain. Apalagi, dibandingkan Nabi yang lain, Dzulqarnain sebagai sosok cukup jarang diangkat.
Inilah yang membuat esai karya Romie ini bagi saya mengungguli yang lain. Dan memang, begitulah kekuatan sebuah kisah. Menyampaikan kesan dengan halus, dengan wibawa dan sekaligus pengibaratan.
Hanya, ada beberapa kekurangan yang mungkin bisa ditambal. Gaya penulisannya terkesan buru-buru dan a la broadcast pilgub. Kedua, penyakit umum yang melanda keseluruhan naskah yang masuk adalah sulitnya mengartikulasikan maksudnya secara terang dan terbuka. Meski Romie cukup berhasil menangani itu, tapi jejak-jejak kegamangan penulisan itu masih ada.

Saran pengembangan, dari ketujuh pesan yang ada bisa dikembangkan menjadi kritik yang nyelekit. Misalnya, pesan ketujuh ketika Dzulqarnain mengakui bahwa segala perbuatannya berasal dari rahmat Allah. Itu cukup menyentil, apabila dikaitkan dengan pembangunan masjid KH Hasjim Asj’ari yang diklaim sebagai hasil karya seorang kafir yang sombong itu.

Pesan ketiga mengenai komunikasi bisa dikembangkan dalam konteks kejakartaan, bahwa pemimpin haruslah berkata-kata dengan sabar dan mendengar dengan sabar, hingga mengerti keinginan rakyatnya, tidak umbar kata-kata kotor sebagaimana yang ada.

Tafsir atas kisah ini, lebih mendalam akan kita dapati memang dalam Tafsir Ibnu Katsir. Akan tetapi, tak ada salahnya kita menjenguk sejenak Tafsir Ath-Thabari, di dalamnya ada tawaran tafsiran lain. Romie tidak terjebak pada latarbelakang Dzulqarnain, atau juga di mana lokasinya berada. Ia berhasil fokus.
Begitulah kira-kira.

TTD Juri Gebrak
Amar ar-Risalah
(Jurnalis, Penulis dan Editor)

*Karya pemenang dapat di lihat pada link berikut ini :

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *