Gebrak Edisi 1: Pesan Qur’an untuk Sang Pemimpin

Bismillahirrahmanirrahiim.
Kita terlalu sering dijejali oleh banyaknya pesan tanpa dasar yang memandang sebuah kepemimpinan. Yang dikemudian hari, pesan tersebut tersebar luas, terus-menerus terulang hingga akhirnya ia terekam oleh ingatan umat, yang ujung-ujungnya adalah umat memandang pesan tersebut sebagai sebuah kebenaran.

Mari sejenak keluar dari jahilnya pesan kepemimpinan itu, menuju pesan yang 1400 tahun lamanya mampu bertahan, dan masih sangat ideal jika hari ini kita terapkan. Pesan kepemimpian tersebut berasal dari Al-Quran Al-Karim. Sebuah pesan kepemimpinan yang menjadi pelajaran besar bagi risalah perjuangan Rasul SAW, beserta umatnya sepanjang zaman.

Pesan kepemimpinan tersebut berasal dari seorang raja yang memiliki timur dan barat dan hadiahkan khusus untuk kita semua umat Muhammad. Pesan tersebut berasal dari seorang yang bernama Dzulqarnain.

Dari sekian banyak “pesan” dalam Al-Quran, mengapa Dzulqarnain? Ibnu Katsir menyampaikan dalam tafsirnya bahwa inilah kisah terbaik tentang raja (pemimpin) dalam Al-Quran. Oleh karenanya, kita perlu mendalami pesan itu agar kita sama-sama bandingkan, bagaimana pesan jahiliyah dengan pesan Al-Quran tentang pemimpin.
Kisah ini dimulai dari surat Al-Kahfi ayat 83 hingga 84 yang menerangkan kedudukan Dzulqornain. Kemudian di ayat 85, Allah tunjukan pesan berupa aktivitas penting bagi seorang pemimpin.
(فَأَتْبَعَ سَبَبًا)
“Maka diapun menempuh suatu jalan”

Kemudian ayat tersebut terulang kembali, dalam ayat 89 dan 92 sebagai gambaran betapa pentingnya aktivitas tersebut bagi seorang pemimpin.

Pesan PERTAMA, bahwa pemimpin, harus mampu menjelajahi seluruh wilayah kekuasaannya. Dari Dzulqarnain kita belajar bahwa timur sampai barat pun disambangi olehnya, padahal kala itu, tidak ada kendaran bermotor seperti yang kita lihat hari ini, tidak juga ada pesawat canggih yang mampu membawa kesana kemari kala itu. Namun semua di lalui dengan tekun dan sabar.

Pesan KEDUA, di dalam ayat 87 dan 88
…Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya (87). Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”(88)…

Ini merupakan pesan dakwah serta keadilan bagi setiap pemimpin. Dzulqornain, dengan adilnya mendakwahkan setiap umat yang belum beragama hingga putusan akhirnya mereka beriman atau kafir dengan ganjaran yang sudah Allah tentukan.

Pesan KETIGA adalah komunikasi. Ini tergambar dalam ayat 93 sampai 95
…Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. (93)
Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” (94)
Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka,(95)…

Ayat ini memberikan pesan, bahwa seorang pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan berbagai lapisan umatnya, sekalipun bahasanya sulit dipahami.

Pesan KEEMPAT, masih dalam ayat ke 94 dan 95 bahwa seorang pemimpin bekerja secara ikhlas tanpa dibayar oleh rakyatnya, serta merasa cukup apa yang dimiliknya. Hal ini tergambar ketika umatnya hendak memberikan upah kepada Dzulqornain, namun ia menolaknya.

Kemudian pesan KELIMA yang juga tersirat dalam ayat tersebut adalah, seorang peminpin harus mampu mengajak umatnya untuk sama-sama bergerak mengerjakan proyek pembangunan yang sangat bermanfaat bagi umatnya (membuat tembok untuk umatnya agar tidak diserang oleh Ya’juj dan Ma’juj), tanpa ada air mata (penggusuran, kedzoliman dsb). Dalam konteks ini, Dzulqornain tidak hanya mengajak, tapi ia juga membersamai, bahkan ikut turun tangan langsung dalam pengerjaan proyeknya.

Pesan KEENAM dalam kepemimpinam Dzulqornain termaktub dalam ayat 96.
…berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”(96)..

Dalam ayat ini, Dzulqornain mengirim pesan bagi setiap pemimpin bahwa pemimpin mampu meletakan umatnya di posisi yang tepat. Dzulqornain sangat tahu bahwa umatnya itu tak memiliki pengetahuan yang baik dalam membuat tembok. Maka, ia hanya meminta umatnya untuk mengumpulkan besi, kemudian disusun rapih untuk setelahnya dibakar dengan api yang besar. Sementara pekerjaan menuang tembaga, Dzulqarnain sendiri yang melakukan tersebab hanya ia yang memiliki ilmunya.

Pesan KETUJUH yang disampaikan Dzulqornain, adalah dalam ayat 98 berikut.
…Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar” (98)…

Inilah pesan yang semakin memuliakan seorang pemimpin, di langit maupun di bumi bahwa sebesar apapun karya seorang pemimpin ketika menjabat, ia tetap merendah di hadapan Rabb-nya seraya berkata.. ini adalah rahmat dari Rabbku…

Terlalu banyak pemimpin jahil zaman ini, yang karyanya tidak seberapa namun ia mengklaim sebagai karyanya, dan lupa akan rahmat Rabb-nya.
Inilah ketujuh pesan yang termaktub dalam surah Al-Kahfi. Tentunya masih banyak lagi pesan kepemimpinan yang bisa digali, namun kekurangan pendalaman pembahasan murni karena keterbatasan penulis. Semoga pesan untuk pemimpin ini bisa dilaksanakan oleh pemimpin-pemimpin masa kini, agar kita memiliki standar yang baik dalam sebuah kepemimpinan.

Oleh:
Romie Hendra Putra/Geografi UNJ 2013

Sumber :
1. Al-Quran
2. Kitab Sirah Ibnu Katsir (edisi 24 nabi)
3. Kajian Ust. Budi Ashari.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *