Menuju Putaran Kedua Pilkada Jakarta

Oleh: Mujahid Robbani Sholahudin

Dewasa ini, ummat Islam Jakarta disibukkan dengan berbagai permasalahan kompleks yang sangat meresahkan, diawali dari penggusuran lahan, reklamasi, kasus penistaan agama yang tak kunjung usai, pelecehan ulama, hingga fitnah-fitnah yang lain. Hal ini persis seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW:
“Pasti terjadi beberapa umat saling mengajak untuk mengalahkan kalian sebagaimana orang-orang yang makan saling mengajak makan pada satu wadah makan (beramai-ramai mendatangi). Maka seseorang bertanya: “Apakah karena jumlah kita (orang beriman) sedikit pada masa itu? Nabi menjawab: “Bahkan pada saat itu jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih banjir dan niscaya sungguh Allah mencabut rasa takut dari hati musuh kalian dan niscaya sungguh Allah memasukkan “wahn” dalam hati kalian”. Maka seorang laki-laki bertanya: “Apakah wahn itu ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Cinta dunia dan takut mati”. [Hadist Abi Dawud No. 4297 Kitabul Malahim]
Berdasarkan Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, ada sebayak 85,36% atau setara dengan 8.200.796 jiwa penduduk Jakarta menganut agama Islam. Hal ini sangatlah wajar jika kita mencoba menelusuri sejarah Jakarta. Berawal dari Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan pelabuhan utama bagi sebuah kerajaan Hindu, kemudian ditaklukkanlah Pelabuhan Sunda Kelapa oleh seorang pangeran muslim yang bernama Pangeran Fatahillah, seorang pemimpin dari Kesultanan Demak. Tanggal 22 Juni 1927, pangeran yang masih belia ini mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti ‘Kemenangan yang Nyata’, mengambil makna dari Al-Quran ‘Fathan Mubiina’ pada Surat Al-Fath ayat 1 yang berbunyi:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
“Sesungguhnya Kami berikan kemenangan kepadamu Kemenangan yang Nyata”.
Peristiwa ini begitu membekas di hati ummat islam Jakarta, walaupun nama Jayakarta telah diganti oleh Jepang menjadi Jakarta. Bahkan tanggal penaklukan Jayakarta oleh Fatahillah dijadikan sebagai tanggal lahir Jakarta. Namun, mirisnya kota ini sekarang dipimpin oleh seorang non muslim yang juga mencalonkan dirinya pada Pilkada 2017 menantang calon muslim. Seseorang yang notabene menjadi biang keresahan muslim Jakarta akibat perkataan dan tindak tanduknya sebagai seorang pemimpin di Jakarta.
Tentang urgensi memilih pemimpin muslim telah sangat jelas digambarkan oleh Dr. Zakir Naik dengan analogi yang sangat cerdas. Dalam acara yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tanggal 3 April 2017 beliau berkata: “Jika Anda adalah bos yang mempunyai pegawai. Pegawai itu Anda gaji Rp 10 juta per bulan. Tapi pegawai itu tidak pernah datang ke kantor, sebulan hanya dua kali. Bukannya mengerjakan pekerjaan di kantor, pegawai ini malah bekerja untuk orang lain, mendermakan uangnya di tempat lain. Pegawai seperti ini tentu saja tidak akan dipekerjakan lagi. Ini seperti non-Muslim yang tidak mendengarkan bos tertinggi kita, Allah, yang memberi kesehatan, kekayaan, yang menciptakan kehidupan. Lalu kita menyembah yang lain, syirik. Ketidakadilan terbesar adalah menentang penciptamu, yang tidak bisa dihapuskan dengan memberikan derma. Jika ada pegawai yang patuh pada atasannya, walau dia tidak menderma di luar, tentu akan mendapatkan pertolongan dari bosnya. Bagi saya, jika ada non-Muslim yang 100 kali lebih baik dalam segala hal dari seorang Muslim, tapi Muslim itu punya iman, percaya kepada Allah, bahkan jika saya kehilangan setiap Rp 10-20 juta setiap hari karena memilihnya, saya akan tetap memilihnya [Muslim],” tegas Zakir Naik.
Adapun hukum memilih pemimpin non muslim sudah begitu jelas dalam Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin / pelindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS. An-Nisa: 144)
Serta dalam ayat-ayat lain seperti Al-Maidah: 51 & 57, Ali Imran: 28 & 118, At-Taubah: 23, Al-Mumtahanah: 13, dll.
Melihat berbagai dalil aqli dan naqli di atas, seharusnya sudah jelas bagi seorang muslim sejati untuk memilih pemimpin muslim. Namun ironisnya, pada Pilkada putaran pertama, yang unggul adalah justru calon non muslim nomor urut 2 dengan persentase suara 42,99%. Sedangkan pasangan muslim nomer urut 1 mendapatkan persentase suara 17,02% dan pasangan muslim nomer urut 3 mendapatkan persentase suara 39,95%. Karena tidak ada yang memenuhi persyaratan 50% plus 1, maka diadakanlah Pilkada putaran kedua dengan lebih jelas pertarungannya antara non muslim dengan muslim. Menghadapi kondisi ini, maka ummat islam harus bergerak. Setidaknya ada empat hal yang harus kita lakukan bersama:
Doa
Doa adalah senjata terbaik bagi orang-orang yang beriman. Dengan berdoa kita akan semakin dekat dengan Allah SWT. Rasulullah bersabda:
“Doa adalah senjata seorang Mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR Abu Ya’la)
Bahkan Allah SWT berfirman: “Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintab)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Usaha
Selain berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah, ummat islam juga harus berusaha sekuat tenaga memperjuangkan pemimpin muslim untuk Jakarta.
Allah SWT berfirman: “… Sesungguhnya allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri … (QS. Ar-Ra’du: 11)

Banyak usaha yang bisa kita lakukan, seperti mencerdaskan muslim untuk memilih pemimpin muslim, mengajak muslim untuk menggunakan hak pilihnya, melawan segala bentuk kecurangan, mengawal jalannya pilkada, dll.
Istiqomah
Usaha-usaha yang kita lakukan tidak akan berdampak banyak jika kita tidak istiqomah dalam menjalankannya.

“Rasulullah saw pernah ditanya oleh orang, “Amal yang bagaimanakah yang paling disukai Allah?” Jawab Rasulullah saw, “Amal yang dikerjakan secara istiqomah walaupun sedikit.” (HR. Muslim).

Tawakkal
Secara istilah, Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Tawakkal ialah penyandaran hati dengan jujur kepada Allah SWT dalam upaya memperoleh kebaikan-kebaikan dan menolak bahaya-bahaya dalam seluruh urusan dunia dan akhirat.”
Setelah kita berdoa dan berusaha dengan istiqomah, maka kita harus bertawakkal kepada Allah, menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Kita menginginkan pemimpin yang tunduk pada perintah Allah SWT dan mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kesehariannya. Kita menginginkan pemimpin yang mampu menjadi panutan dalam tutur kata dan perbuatan. Kita menginginkan pemimpin yang bisa merangkul aspirasi masyarakat muslim. Kita menginginkan pemimpin yang adil dan beradab. Kita menginginkan pemimpin yang mempersatukan bukan memecah persatuan. Kita menginginkan pemimpin yang pro terhadap rakyat kecil. Kita menginginkan pemimpin yang mengabdi untuk seluruh rakyat Indonesia. Mari gunakan hak pilihmu, ajak keluarga, saudara, sahabat dan teman-temanmu untuk memilih pemimpin muslim. Berdoalah, berusahalah dengan istiqomah dan bertawakkallah. Demi menyongsong kemenangan yang nyata.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *