Membaca Peta Kemenangan Umat Dalam PILKADA DKI 2017

[PRESS RELEASE DISKUSI PUBLIK]

Jakarta, Senin (27/3) Departemen Kajian Strategi LDK Salim UNJ bekerja sama dengan Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Jadebek mengadakan diskusi publik mengenai isu terkini tentang Pilkada DKI Jakarta. Agenda ini bertempat di Ruang Serba Guna, Fakultas Ilmu Sosial, kampus A UNJ.

Diskusi publik ini menghadirkan tiga tokoh muslim yang mempunyai andil dalam upaya menjadikan kursi DKI satu seorang pemimpin muslim. FSLDK menghadirkan Ust. Namruddin selaku ketua Tim Pemenangan Gubernur Muslim untuk Jakarta (GMJ), Ust. Nuim Hidayat, SP, MA selaku pengamat politik Islam, dan Ust. Syukron Muchtar selaku ketua FSLDK Jadebek, dan dimoderatori oleh Ahmad Firdaus sebagai kepala departemen Kajian Strategis LDK Salim UNJ.

Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta dan dimulai pukul 13.28 WIB.

Acara dibuka oleh Heri Samtani sebagai pembawa acara yang dianjutkan dengan sambutan dari Ketua LDK Salim UNJ, Mujahid Robbani Solahudin. Acara lalu dilanjutkan dengan perkenalan narasumber oleh moderator, yaitu Ahmad Firdaus dan berlanjut ke inti acara, yaitu pembahasan mengenai pemetaan kemenangan umat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Mengawali pembahasan mengenai peta kemenangan umat, Ust. Namruddin memaparkan terkait lembaga Gubernur Muslim untuk Jakarta (GMJ) dan Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah (MTJB) yang didirikan oleh Habib Rizieq Shihab. Dalam pemaparannya, Ust. Namruddin menekankan bahwa ulama berupaya keras dalam mencalonkan pemimpin muslim dalam Pilkada karena keinginan yang kuat sebagai seorang muslim untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan keyakinan. Ust. Namruddin juga menjelaskan bahwa dalam QS. Al-Maidah ayat 51 yang jelas menyebutkan bahwa kita dilarang memilih pemimpin yang berasal dari golongan Yahudi atau Nasrani. Ust. Namruddin menekankan bahwa terciptanya konvensi atau mudzakaroh yang berbunyi: (1) umat Islam harus memilih, haram untuk golput dan (2) pasangan pemimpin sebaiknya yang satu keyakinan karena kita memilih yang paling sedikit mudharat-nya (keburukannya).

Beliau juga memaparkan alasan warga muslim Jakarta harus memilih pemimpin muslim dengan alasan, yaitu: (1) alasan subjektifnya karena agama kita Islam dan sudah sewajarnya apabila kita memilih pemimpin yang satu keyakinan, dan (2) Jakarta didirikan oleh seorang pemimpin muslim, yaitu Fatahillah.

Fatahillah memberikan nama Jayakarta sebagai nama Jakarta yang mempunyai arti kemenangan karena terinspirasi oleh QS. Al-Fath yang artinya juga merupakan kemenangan. Penjabaran materi dari Ust.Namruddin ditutup dengan pernyataan bagaimana cara memenangkan gubernur muslim.

Beliau menyampaikan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan agar pasangan calon gubernur muslim dapat memenangkan Pilkada DKI, diantaranya (1) adanya kekuatan spiritual; (2) harus punya kekuatan aktual; dan yang terakhir (3) adanya kekuatan sistem. Ketiga hal tersebut ditekankan oleh Ust.Namrudin kepada seluruh pemilih atau pendukung pasangan gubernur muslim.

Pembahasan selanjutnya mengenai perjuangan dalam menjadikan muslim sebagai pemimpin. Ketika kita ingin pemimpin muslim yang menjadi panutan kita, tentunya membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Tentunya, akan banyak sekali rintangan, tetapi harus semangat seperti perang Badar. Kerahkan semua kelebihan yang kita miliki untuk meraih kemenangan, kemenangan untuk pemimpin muslim.

Dan pembahasan penutup mengenai pemetaan kemenangan pemimpin muslim datang dari sudut pandang ketua FSLDK Jadebek, Ust Syukron Muchtar. Beliau memulai pemaparannya dengan menyampaikan ciri yang harus ada dalam diri pemuda menurut salah satu tokoh pergerakan islam; Hasan Al-Banna. Terdapat empat hal yang harus ada dalam diri para pemuda muslim, (1) Iman, (2) Ikhlas, (3) Hamasah (semangat), dan yang terakhir (4) amal. Kalau keempat hal tersebut tidak ada dalam diri pemuda, maka pemuda tersebut tua sebelum waktunya.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari diskusi publik kali ini adalah Islam akan menang atas segala agama. Kita bergerak bersama ulama dan sudah jelas pula kebenaran dan kebatilan yang ada di depan mata. Tugas kita adalah memilih untuk berada di kapal yang mana karena kapal itulah yang akan mengantarkan kita kepada tujuan. (FH/FNP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *