Mari Mengenal Allah

“Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan Yang bergantung Kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Tidak ada satu pun perkara yang lebih disegerakan oleh kaum Muslimin selain masalah ingin cepat meraih surga dan berada dalam pelukan Rabbnya yang Maha Penyayang, yang penuh dengan kelembutan dan bagi-Nya muara keindahan segala cinta dan kasih sayang yang dirindukan bagi pencari kekasih sejati, yang hanya bisa memendam segala rasa yang bergejolak dan bergemuruh di dadanya hingga matahari cintanya mulai bersinar tatkala ia dipertemukan dengan kekasih hatinya. Menikmati kemuliaan wajah-Nya dan tatapan-Nya yang penuh cinta dan kasih sayang, membuat pencinta-Nya tidak sabar menunggu saat perjumpaan dengan-Nya. Mereka mengetahui jalan pintas yang paling cepat untuk merasakan siraman keindahan sinar rembulan cinta-Nya tatkala ia berada dalam pelukan Dzat yang dirindukan, yaitu dengan mati syahid di jalan Allah. Maka mereka pergi berperang tanpa keraguan karena ingin mendapatkan mati syahid sebagai gerbang menikmati segala keindahan, keelokan dan kenikmatan-Nya, dengan berjuang sepenuh tenaga dengan darah mereka dan dengan membunuh sebanyak-banyaknya kaum kafir yang menjadi musuh kekasihnya.

Salah satunya adalah Umair bin Himam yang berangkat ke perang Badar dengan segala persiapan lahir dan batin. Ketika telah mengeluarkan beberapa biji kurma untuk dimakan, dia mendengar Nabi Saw berpidato menganjurkan orang-orang berperang dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan surga dan perjumpaan dengan Yang Maha Mulia. Kemudian Umair segera membuang dari tangan dan berkata: “Jarak antara aku dengan saat memasuki surga itu adalah ketika aku memerangi kaum musyrik untuk berjumpa dengan Dzat yang membuat jiwaku semakin bergemuruh karena kerinduanku yang semakin tak terbendung untuk bertemu dengan-Nya. Demi Allah, waktu untuk memakan kurma ini sangat panjang!” Dia segera menyerbu ke tengah medan perang sambil bernyanyi:

“Aku akan meloncat ke surga Allah tanpa ada bekal kecuali
dengan taqwa dan amal akhirat dan sabar untuk berjihad
karena Allah sedangkan segala perbekalan akan habis kecuali
perbekalan taqwa, kebaikan. dan kebenaran.”

Umair terus memerangi dan membunuh para musuh Allah sebanyak yang dia mampu sampai Allah mengabulkan harapannya dan menerima doanya. menyambutnya dengan kelembutan-Nya untuk meloncat ke surga Allah sebagai syahid menemui kekasih hatinya.

Kenali dulu… baru mencintai…
Tak kenal, maka tak sayang
Tak sayang, maka tak cinta

Begitulah ungkapan yang tak asing lagi bagi kita tentang bagaimana cinta bisa tumbuh dan bersemi dalam jivva yang selalu merindukan tambatan hati untuk mencurahkan rasa cinta dan rindu yang Allah anugerahkan bagi tiap insan di muka bumi ini. Kandungan maknanya sangat menarik untuk dipahami dengan kejernihan pikiran. Secara tidak langsung, ungkapan tersebut menegaskan pentingnya “pengenalan” sebagai starting process bagi tumbuhnya rasa cinta dan berseminya rasa rindu.

Merujuk pada istilah agama, ma’rifah (mengenal) merupakan awal berseminya rasa cinta. Tiada cinta tanpa ma’rifah. Cinta adalah salah satu jalan menuju suatu perubahan. Tidak sedikit sikap dan perilaku seseorang berubah menjadi baik oleh karena cinta. Begitupun sebaliknya, tidak sedikit pula sikap dan perilaku seseorang berubah menjadi buruk karena masalah yang satu ini, cinta. Semua anak manusia, diakui atau tidak, siapapun dia dapat dipastikan membutuhkan cinta.

Pertanyaannya, kepada siapa dan bagaimana model cinta yang bisa membawa kita menuju kepada sebuah perubahan yang baik dan memperoleh kebahagiaan yang hakiki, dunia dan akhirat. Jawaban bagi seorang mukmin tiada lain adalah “Cinta Ilahi”‘ yang mesti bisa diraihnya walaupun dengan tertatih-tatih. Karena Dialah yang menjadi tambatan hati, penyejuk jiwa, tumpuan harapan, dan yang selalu dirasakan kehadiran-Nya di segala keadaan. Dikala bahagia hadir, dikala derita mencoba menyapa, hanya Dia yang selalu terlihat dan yang selalu teringat untuk menjadi curahan segala rasa yang terpendam dalam jiwa. Rasa cinta dan rindu yang menggelora untuk selalu ingin berjumpa dengan-Nya, Allah Swt, kekasih sejati bagi para pencari cinta hakiki.

Makna Ma’rifatullah

Menurut Ibnul Qayyim, ma’rifat dan irfan sebagaimana dikatakan oleh Raghib menurut asal bahasanya bermakna memahami sesuatu dengan memikirkan dan merenungkan terhadap pengaruhnya. Ma’rifat itu merupakan ilmu yang harus dilaksanakan. sehingga meliputi ilmu dan amal secara total. Namun, ma’rifat tersebut lebih banyak menyangkut aktifitas hati (Mahabbatullah, tangga menuju cinta Allah). Mahabbah (kecintaan) adalah kendaraan bagi sekelompok orang yang di atasnya mereka menempuh perjalanan menuju Kekasihnya dan merupakan jalan paling mudah yang menyampaikan mereka ke manzilah (kedudukan) paling tinggi.

Mengapa kita butuh Ma’rifatullah?

Jika setiap kita mau jujur mengakui mungkin banyak diantara kita merasakan, ibadah ritual yang dilakukan seringkali tidak terasa nikmat, kekayaan materi yang berlimpah tak jua mendatangkan kebahagiaan, prestasi belajar yang gemilang tak bersama ketenangan dan kepuasan batin, apalagi sedang menghadapi kesulitan hidup baik berupa ujian, cobaan, maupun musibah. Semua keadaan yang diberikan Allah sangat sulit untuk dinikmati, keluh kesah selalu menjadi cara untuk menyikapi berbagai kondisi, serasa tak menemukan jalan untuk menikmati kehidupan dengan tenang. Permasalahan yang datang pun silih berganti, namun tak jua menemukan muara solusi. Hidup di tengah keramaian, namun terasa sepi. Keraguan dan pesimis senantiasa menyertai, sehingga hakikat hidup pun tak pernah termaknai, tidak tahu dari mana dan akan kemana, serta apa yang harus dilakukan dalam kehidupan ini? mengapa?

Kecerdasan seorang hamba dalam menyikapi kehidupan bergantung pada kekuatan dan kesempurnaan yang dimilikinya dalam hal ilmu dan mahabbah. Dengan ilmu sebagai cahaya kehidupan dapat mengantarkan seseorang mengetahui arah dan tujuan hidupnya. Adapun sebaik-baik ilmu adalah ilmu tentang Allah, karena dengan ilmu inilah semua pertanyaan dalam kehidupan ini dapat dijawab dan setiap kondisi yang diberi dapat termaknai. Ketika ia beribadah atau melaksanakan sesuatu ia menyadari makna dari semua yang ia lakukan, dan merasakan hadirnya kasih sayang dan cinta-Nya dengan diberikan-Nya kenikmatan dalam beramal dan beribadah yang dirasakan tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai hamba, tapi justru dirasakan menjadi suatu kebutuhan untuk terus berinteraksi dengan-Nya baik dalam shalat, puasa, zakat, sedekah, dan ibadah lainnya. Karena dengan cara inilah (selalu mengingat-Nya) ketenangan akan ia peroleh. Sebagaimana firman Allah yang ia yakini,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Adapun semua yang ia dapatkan atau ia alami, baik kesulitan maupun kemudahan duniawi dapat ia sikapi dengan ridha dan syukur, karena ia yakin apapun kondisi yang diberikan Rabb-nya adalah selalu pilihan yang terbaik untuk dirinya, karena Allah tidak akan menzhalimi dan akan selalu menolong hamba-Nya. Sehingga ketenangan, kebahagiaan dan ketenteraman yang akan selalu setia menemaninya dalam menikmati hari demi hari. hingga saat ia kembali ke dalam pelukan Ilahi. Adapun mahabbah yang paling tinggi adalah mahabbatullah (mencintai Allah). Yang dengannya (mahabbatullah) ia tidak pernah kehabisan energi dan semangat yang gigih untuk terus berbuat, dan terus berlari hingga ia mencapai apa yang ia cari yaitu ridha Ilahi. Mereka yang berjalan menuju ma’rifatullah (mengenal Allah) akan mendapatkan pelbagai karunia, karena Allah akan menganugerahinya dengan berbagai karamah (kemuliaan). Kemerdekaan dalam menjalani kehidupan ini dengan tidak bergantung kepada selain-Nya sehingga menjadikan diri terbebas dari segala tuntutan hawa nafsu yang dapat membelenggu diri yang akhirnya membuat hati menjadi tenang dan tenteram.

Di samping itu, Allah akan melimpahkan keberkahan kepada manusia yang beriman dan bertaqwa dengan memberikan kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat. yang semuanya hanya diperoleh dengan ma’rifatullah. Dan keridhaan Allah merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba tatkala ia berjalan menuju ma’rifatullah di mana Allah akan mencintainya dengan mengantarkan hamba-Nya pada kedudukan mahabbatullah.

Karakteristik jalan menuju Ma’rifatullah

Ketika seseorang meniti jalan menuju ma’rifatullah, kadang Allah menempatkannya pada suatu keadaan agar ia memahami Allah, lain pemahaman itu akan memberikan ma’rifah kepadanya. Perihal inilah yang menjadi pusat perhatian Syaikh Ibnu ‘Atha’illah sebagaimana tersimpul dalam ujarannya “Adakalanya Allah memberimu (kesenangan dunia), tapi tidak memberimu (taufiq dan pemahaman). Kadang kala Allah tidak memberimu (kesenangan dunia), tapi la memberimu (taufiq dan pemahaman). Jika Allah menyibakkan kepadamu pintu untuk memahami penahanan pemberian, maka penahanan pemberian itu akan berubah menjadi pemberian itu sendiri.” Pemberian atau penahanan pemberian, keduanya berpengaruh di hati seseorang. Ironisnya, banyak orang keliru memahami Allah dalam hal ini, karena menurut pemikiran mereka pemberian adalah tanda karamah, dan penangguhan pemberian adalah tanda penghinaan.

Adapun manusia, bila Rabb-nya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata: ‘Rabb-ku telah memuliakanku’. Sedang jika Rabb-nya mengujinya, lalu la mengurangi rezekinya, maka dia berkata: ‘Rabb-ku menghinaku'” (QS. Al-Fajr: 15-16).

Pengertian ini begitu dalam, karena itu Al-Qur’an meluruskannya. Kadang Allah menangguhkan pemberian dunia kepada makhluk yang paling dicintai-Nya, tapi la curahkan segala macam kesenangan dunia kepada makhluk yang paling dimurkai-Nya. Karena itu, pemberian duniawi dari Rabb bukan tanda karamah, dan penahanan pemberian bukan tanda kehinaan. Adapun di akhirat, maka pemberian baru disebut tanda karamah dan penahanan pemberian adalah bukti penghinaan. Bila Allah memberikan karunia-Nya, maka la memperlihatkan kebaikan-Nya. Manakala la menahan pemberian-Nya. maka la menunjukkan kekuasaan-Nya. Dalam semua keadaan tersebut la memperkenalkan diri-Nya dan menghadapi hamba-Nya dengan kelembutan-Nya.

Hikmah penangguhan dan kelekasan pemberian bertautan dengan masalah pengenalan terhadap Allah. Jika seseorang dapat mengenal Allah melalui celah penahanan dan penyegeraan pemberian, maka dia sungguh telah menapaki jenjang kesempurnaan karena pemberian adalah salah satu tanda kebaikan-Nya, dan penahanan pemberian adalah cermin dari kekuasaan-Nya.

“Dan Dialah Yang Berkuasa atas hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-An’am: 18)

Bila penahanan pemberian itu menyakiti seorang hamba, maka itu hanya karena ketiadaan pemahamannya tentang Allah di dalamnya.

Bagaimana jalan menuju Ma’rifatulah?

Berbagai cara dapat digunakan manusia dalam rangkamenuju ma’rifatullah, yaitu:

a.  Melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniyah)

Perhatikan setiap hal di sekeliling kita sampai yang paling kecil sekalipun, lalu dalam diri kita, maka akan kita dapati bahwa semua itu adalah ayat-ayat Allah yang bersatu dalam harmoni yang begitu indah yang dapat diambil hikmahnya, sesuai dengan yang difirmankan Allah:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (semua berkata). ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (OS. Ali Imran: 190-191).

Dan firman Allah yang menjelaskan pentingnya kita mengenal diri yaitu:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan (tidak mengenal) kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa (tidak mengenal) diri mereka sendiri. Mereka inilah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Sebuah hadits yang dikutip Muhammad Rey Syahri dalam Mizan al-hikmah menegaskan “Barangsiapa bersungguh-sungguh mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”.

Pengenalan diri merupakan aktivitas spiritual yang mencerdaskan hati dan mempertajam jiwa. Hati yang cerdas akan cepat menerima pancaran cahaya llahi, sehingga pemiliknya akan mendapatkan keimanan. Allah memenuhi relung jiwanya.

b.  Merenungi dan mentadaburi ayat-ayat Qauliyah (Qur’aniyah)

Allah menyeru kita untuk merenungi dan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mandapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82)

Banyak penelitian ilmiah yang telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an dan diakui oleh para pemikir Barat yang jujur, salah satunya adalah penyebutan Al-Qur’an tentang bagaimana fase-fase pertumbuhan janin. Di dalamnya dijelaskan secara detail yang hanya dikenal oleh sains dan kedokteran modern serta dibuktikan oleh dokter-dokter dan ilmuwan-ilmuwan yang mengambil spesialisasi kandungan. Jadi, tanda-tanda kekuasaan Allah merupakan bukti paling jelas atas sifat-sifat-Nya dan atas kebenaran beria yang dibawa oleh para Rasul tentang-Nya. Dengan kata lain, alam semesta sebagai ciptaan-Nya ini membenarkan ayat-ayat Al- Quran yang sebagian isinya menyuruh kita berdialog dengan ayat-ayat kauniyah, Allah Swt berfirman:

“Kami akan memperlihatkan pada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa AI-Qur’an adalah benar…. “ (QS. Fushshilat: 53)

c.  Memahami dan mencontoh Asmaaul Husna

“Dialah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik, bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24).

Yang dimaksud ma’rifah melalui Asmaaul Husna adalah bersikap sesuai dengan apa yang diajarkan di dalam nash wahyu tentang sifat-sifat Allah dan asma-asma-Nya. Selanjutnya, baik sifat-sifat maupun asma-asma tersebut ditetapkan sebagaimana apa adanya, sehingga ma’rifatnya kepada Allah tidak akan rusak oleh penakwilan, pengurangan dan penyelewengan Jika seorang hamba memahami Allah tentang pemberian-Nya, maka ia akan mengerti asma-Nya (nama Allah), yaitu al-Mu’thi (Yang Maha Pemberi). Bagi orang yang berjalan menuju Allah, segala sesuatu itu dapat menjadi khazanah pemberian baginya: segenap partikel, dan segenap apapun akan memperkaya ilmu dan pemahamannya terhadap Allah. Sebagian dari asma Allah adalah azh-Zhaahir (Yang Maha Tampak) dan Al-Bathin (Yang Maha Tersembunyi), maka jika seorang hamba melihat dunia ini dengan mata hatinya. ia akan menyaksikan bekas Allah, yang karenanya ia dapat melihat asma-asma Allah. Jika ia lalai. niscaya ia tidak akan dapat melihat dunia dengan mata hatinva, tetapi dengan nafsu dan syahwatnya, lalu dunia pun akan memfitnahnya atau dengan kata lain, jika ia melihat alam lain ia terpedaya, itu pertanda ia masih melihatnya dengan mata nafsu, namun jika ia melihat alam. lalu dipetiknya pelajaran, berarti ia memandangnya dengan mata hati.

Dari paparan ini, ada semacam tuntutan dan bahan renungan yang berharga bagi kita. “Singkatnya perjalanan yang hakiki adalah jika perjalanan dunia ini tersembunyi darimu, hingga engkau melihat akhirat itu lebih dekat kepadamu ketimbang dirimu sendiri”. Maksudnya, hendaklah dalam perjalanan kehidupan ini yang menjadi pusat perhatian utama adalah perihal akhirat, bahwa akhirat begitu dekat. Inilah perjalanan hakiki dan sejati yang dituntut dari kita, dan perjalanan inilah yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Saw; mereka hidup dalam situasi yang penuh dengan nuansa akhirat. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits: “la (Rasulullah saw) mengingatkan kami tentang surga dan neraka, hingga seolah-olah kami melihat
dengan kasat mata.” (HR. Muslim)

Visi orang-orang yang ahli tentang perjalanan menuju Allah berbeda dengan pandangan orang-orang awam. Seorang ‘arif (yang tahu kebenaran) memperhatikan apa yang terjadi sekarang, di masa yang lalu, dan kurun yang akan datang. la selalu disibukkan dan dirisaukan oleh waktu waktunya, bagaimana agar ia bisa lulus dalam melewati waktu-waktu tersebut, dan ia melihat seseorang pada keadaan yang terakhir. Sedang yang dipandang orang awam adalah peri kehidupan seseorang (pelaku maksiat) yang berpuluh-puluh tahun sudah berlalu, padahal orang tersebut kadang sudah bertobat secara langsung, dan kini ia telah menjadi salah satu wali Allah. Sungguh pun begitu. Orang awam tersebut tetap saja tak melupakan masa lalunya. Adapun seorang yang tidak punya pandangan seperti itu dalam memperlakukan sesama makhluk ciptaan Allah, dan dalam keadaan seperti itu ia tidak tertipu. Ini terjadi karena seorang ‘arif memandang dengan mata hikmah, mata hakikat, dan mata cinta dan kasih sayang terhadap makhluk. dan semua ini adalah buah dari ma’rifah-nya dan mahabbah-nya terhadap Allah.

Mencintai Allah melalui Cara-Nya Memperkenalkan Diri-Nya

a.  Cobaan Yang Membangkitkan Jiwa dan Menyadarkan Hati

Ketika seorang hamba diberi cobaan, biasanya terlebih dahulu ia berusaha menghadapinya sendiri. Ketika ia tidak dapat menyelesaikan sendiri, ia akan mencari pertolongan orang lain. Bila hal ini juga gagal, seketika itu seorang hamba akan kembali kepada Allah dengan berdo’a, merenung bahkan menangis. Selama cobaan itu dapat dihadapi oleh dirinya sendiri. Ia tidak akan mencari pertolongan orang lain, ia tidak akan kembali kepada Allah. Ketika pertolongan dari Allah tidak didapatkan, ia akan menengadahkan tangannva untuk selalu berdo’a, meminta, menangis, dan mengemis dengan harap-harap cemas. Kemudian Sang Khalik tidak mengabulkan do’anya. Saat itu berlakulah hukum qadar dan hukum alam, dan yang tersisa hanyalah sepotong jiwa. la tidak melihat kecuali perbuatan Al-Haq menyatu dalam diri yang terdesak.

Terkuaklah suatu penglihatan bahwa tidak ada Dzat yang berbuat terhadap hakikat kecuali Allah. Tiada yang bergerak dan diam kecuali Allah. Tiada kebaikan dan keburukan kecuali Allah. Tiada manfaat dan mudharat kecuali Allah. Tiada yang membuka dan menutup kecuali Allah. Tiada kematian dan kehidupan kecuali Allah. Tiada kemuliaan dan kehinaan kecuali Allah. Tiada kekayaan dan kemiskinan kecuali Allah. Jadilah ia dalam kehendak taqdir-Nya seperti seorang bayi yang menyusu ke ibunya, jiwanya lenyap dalam perbuatan tuannya, dan ia tidak akan melihat selain diri dan perbuatan tuannya, tiada mendengar dan berpikir selainnya. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya, jika mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya dan mengetahui lewat ilmu-Nya. dengan nikmat-Nya ia dapat bersenang-senang, dan dengan dekat kepada-Nya ia berbahagia. Dengan janji-Nya ia berbahagia dan tenang. Dengan berzikir kepada-Nya ia berlindung. Dan dengan-Nya ia percaya. Kepada-Nya ia bertawakal dan dengan cahaya ma’rifat-Nya ia mendapat petunjuk dan mendapat pantulan hikmah, keajaiban segala ilmu-Nya akan tersingkap, segala rahasia taqdir-Nya akan mendapat kemuliaan. Dan dari-Nya ia mendengar dan sadar. Maka segala puji, sanjung dan syukur tertuju kepada-Nya. Dengan demikian, menjadi bersihlah ruhani dan jasmaninya, dan hatinya menjadi tersucikan. Berarti la telah memilih-Nya di dunia ini yakni melalui hatinya, sedang di akhirat melalui jasmaninya. Maka segala bencana menjadi pencuci noda kesyirikan dan menjadi pelebur kesombongan, ketamakan dan harapan akan imbalan surga atas penunaian perintah-perintah.

Cobaan yang berupa hukuman menunjukkan kekurangsabaran dalam menjalaninya, sehingga mengeluh dan mengadu kepada makhluk-Nya. Cobaan yang berupa penyucian diri dari kesalahan dan pelanggaran menunjukkan kesabaran tanpa mengaduh dan mengeluh, tanpa menunjukkan kegelisahan dan tanpa kecemasan kepada sahabat-sahabat dan orang-orang yang berada di sekitarnya dan tanpa gelisah dalam menunaikan perintah dan ketaatan. Terakhir cobaan yang berupa pemuliaan menunjukkan adanya keridhaan dan kedamaian, tenteram jiwanya dan tenang menerima perbuatan Tuhan semesta alam, dan penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini hingga saat berlalunya.

b.  Cintailah Kedekatanmu Pada-Nya

Lenyaplah dari pandangan manusia dan tetaplah dalam penilaian Allah, berpalinglah dari hawa nafsumu dengan mengikuti perintah Allah, dan menghindarlah dari keinginanmu (syahwat) dengan mengikuti apa yang diperbuat Allah, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Tanda lenyapnya diri dari segala hawa nafsu ialah: membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi suatu pamrih, menghindarkan kemudharatan, dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tidak bergantung pada diri sendiri dalam urusan-urusan yang berkenaan dengan dirimu. tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya kepada Allah semata. karena Dia pemilik segalanya sejak awal hingga akhir; sebagaimana kuasa-Nya ketika kau masih disusui. Adapun tanda lenyapnya keinginanmu, dengan mengikuti perbuatan Allah adalah bahwa kamu tidak sedikitpun berkemauan untuk melakukan sesuatu, tanpa tujuan dan tidak menginginkan apa-apa, kecuali ridha-Nya Karena kamu terlelap dalam kemauan Allah, bahkan perbuatan Allah adapada dirimu. Seakan-akan kamu adalah kehendak Allah dan perbuatan-Nya. Tubuhmu terdiam, hatimu tenang, perasaanmu lapang, mukamu berseri-seri, dan batinmu senantiasa tenang. Kamu tidak membutuhkan apa-apa. Tangan Yang Mahakuasa membolak-balikmu. Seruan azali mengundangmu. Tuhanmu mengajarkan kamu dan memakaikan pakaian cahaya untukmu serta memberimu yang halal. Batinmu tidak menerima sentuhan kecuali kehendak Allah. Pada kondisi ini kamu akan diberikan
eksistensi (keberadaan diri) dan kekuatan yang luar biasa. Hal ini akan nampak jelas menurut kacamata akal atau pun ilmu pengetahuan.

Semua itu adalah perbuatan Allah dan kehendak-Nya. Maka pada saat tersebut kamu termasuk golongan orang yang lebur hatinya, yakni semua yang menjadi kehendak kemanusiaannya akan lebur. Hawa nafsunya dihilangkan dan dipercayakan kepadanya suatu kehendak yang bersifat ketuhanan. Semua itu diberikan setelah jiwamu keluar dari diri dan lebur dalam haribaan-Nya. (Dalam sebuah hadits qudsi) Allah berfirman: “Aku senantiasa berada di sisi orang-orang yang lebur hatinya mengingat-Ku.” Allah SWT tidak akan berada disampingmu selagi kamu masih bergelimang dengan nafsu dan keinginanmu. Maka ketika semuanya lebur, yang ada hanya kebesaran-Nya, sehingga menjadikan keinginan-Nya ada padamu. Dengan kehendak-Nya kamu pun berkehendak melakukan sesuatu.

Ketika kamu berada dalam keinginan yang telah dijadikan Allah tadi, maka Dia meleburkannya kembali. Maka leburlah keinginan dan kemauanmu selamalamanya. Allah senantiasa memperbaharui keinginanmu, kemudian menghilangkannva ketika kamu mulai berada di dekat-Nya. Demikianlah. hal ini terus terjadi hingga waktu yang tidak terbatas. Akhirnya terjadilah pertemuan antara Allah dengan dirimu. Inilah makna dari hadits qudsi di atas. Adapun makna “ketika kamu berada di dalam keinginan- Nya” adalah bahwa kamu merasa tenang dan tenteram ketika di dekat-Nya. Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar; dan menjadi matanya, dengannya ia melihat; dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja; dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan.” Demikianlah keadaan lebur (halatul fana’) yang terjadi pada diri manusia.

c.  Cahaya Mukmin yang Mematikan Nyala Api Neraka

Jangan berupaya memperoleh nikmat, jangan pula berupaya menangkal datangnya suatu bencana. Nikmat akan datang kepadamu, jika ia sudah ditaqdirkan untukmu, suka ataupun tidak. Begitu pula bencana. ia akan menimpamu, jika sudah ditaqdirkan untukmu, suka ataupun tidak, sekalipun engkau menangkisnya dengan do’a atau menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan hati demi mendapatkan ridha-Nya. Berpasrahlah dalam segala hal, agar Dia bertindak di dalam dirimu. Jika itu suatu nikmat, maka nikmatilah dengan rasa syukur. Jika itu bencana, bersabarlah, atau tumbuhkan kesabaran dan keterikatan dengan Allah dan keridhaan-Nya. Atau, coba rasakanlah rahmat-Nya di dalam bencana itu, atau menyatulah sebisa mungkin dengan-Nya melalui bencana ini, melalui semua keadaan ruhani yang kau miliki. Di dalamnya, kau akan digerakkan dari satu maqam (kedudukan) ke maqam lain dalam perjalananmu menuju Allah, yakni dalam upaya menaati dan berakrab dengan perintah, sehingga kau bisa berjumpa dengan Yang Maha Besar. Lalu, kau akan ditempatkan di maqam yang sebelumnya ditempati para shiddiq, para syahid, dan orang-orang shaleh. Maksudnya. kau akan mencapai keakraban begitu rupa dengan Allah sehingga memungkinkanmu melihat maqam orang-orang yang telah mendahuluimu menghadap Sang Raja. Penguasa Kerajaan yang agung, dan orang-orang yang dekat dengan-Nya dan telah menerima segala kenyamanan, kesenangan, keamanan, kehormatan. dan rahmat dari-Nya.

Biarkan musibah itu datang, jangan rintangi jalannya. Jangan berhenti berdo’a dan jangan bersedih hati bila menimpamu. Sebab api musibah tidak lebih besar daripada api Neraka Jahanam. Mengenai manusia terbaik di atas bumi dan kolong langit ini, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sungguh api neraka akan berseru kepada orang-orang mukmin: “Wahai mukmin, cepatlah berlalu, karena cahayamu mematikan nyala apiku.” Bukankah cahaya seorang mukmin yang mematikan nyala api neraka itu adalah cahaya yang kita temui padanya di dunia ini, dan yang membedakan antara orang yang taat dengan orang yang maksiat. Cahaya inilah yang memadamkan kobaran bencana. Musibah tidak datang untuk menghancurkanmu, melainkan untuk memberikan peringatan dan menguji kebenaran imanmu, mengukuhkan imanmu dan memberikan kabar gembira secara ruhani akan adanya pertolongan kepadamu. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal-ikhwalmu”. (QS. Muhammad: 31)

Jika keimananmu sudah terpatri bersama kebenaran dan keyakinanmu sesuai dengan tindakan-Nya (semua itu merupakan keistimewaan dan taufiq dari-Nya), maka kau mesti bersabar dan penuh taat kepada-Nya. Jangan biarkan segala pelanggaran terhadap perintah dan larangan-Nya, baik oleh dirimu sendiri maupun oleh orang lain. Jika engkau tidak mampu melaksanakan perintah itu, jangan buang waktu, segeralah kembali kepada Allah. Carilah sebab musabab kelemahanmu dalam melaksanakan perintah-Nya dan keenggananmu dalam melaksanakan dengan penuh ketaatan. Mungkin ketakmampuanmu itu disebabkan oleh prasangka-prasangka buruk, atau sikap burukmu dalam kepatuhan kepada-Nya. lalu Dia tutup pintu pertolongan bagimu, Dia palingkan kemurahan wajah-Nya darimu. Dia menjadi marah kepadamu dan menjauhkan Diri darimu. Dibiarkan-Nya kau sibuk dengan cobaan-cobaanmu di dunia ini dengan hawa nafsumu. Tak tahukah kau bahwa hal ini membuat kau lupa akan Tuhanmu dan menutupmu dari penglihatan-Nya. Dia telah menciptakanmu, memeliharamu dan mengaruniaimu sedemikian banyak nikmat.

Waspadalah, jangan sampai engkau berpaling dari Tuhanmu kepada yang lain. Segala sesuatu selain Allah tidak memiliki pengaruh apa pun karena ia juga termasuk makhluk dihadapan-Nya. Janganlah menzhalimi diri sendiri dengan menyibukkan diri di luar perintah-Nya, atau Allah akan memasukkanmu ke dalam api neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia, hingga engkau ditimpa penyesalan yang tiada guna. Karena itu, kasihilah dirmu dengan menggunakan semua sarana guna taat kepada Tuhan, baik berupa akal, keimanan, ilmu dan pengetahuan, sehingga kamu disinari dengan cahaya kala berada di kegelapan taqdir.

d.  Tanda Cinta Adalah Ridha

Kenapa marah kepada Tuhan atas do’a-do’a yang belum diterima? Kamu mengatakan haram bagiku meminta kepada makhluk dan wajib bagiku meminta kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan ketika aku berdo’a kepada-Nya, Dia tidak memberikan jawaban. Ada yang bertanya: “Kamu merdeka atau budak?” Jika kau jawab: “Aku merdeka.” maka kau tidak beriman. Jika kau jawab: “Aku hamba”, maka ada pertanyaan selanjutnya: “Salahkah Tuhan menunda terkabulnya do’amu, dan kamu meragukan kebijaksanaan, rahmat dan seluruh penciptaan-Nya, pengetahuan-Nya tentang segala hal? Kau memaksa-Nya?” Jika kau tak memaksa-Nya, dan konsisten terhadap kebijaksanaan, kehendak dan mashlahat-Nya kepadamu karena menunda terkabulnya do’amu, maka wajib bagimu bersyukur kepada-Nya, karena Dia telah memilihkan hal yang terbaik bagimu. Bila kau memaksakan hal tersebut kepada-Nya, berarti kau tak beriman, karena kau menilai-Nya bertindak zhalim, sedangkan Tuhan tidaklah berbuat aniaya kepada hamba-Nya, dan tidak menerima bentuk aniaya, serta mustahil baginya berbuat aniaya. Manakala Dia adalah Penguasamu dan Penguasa segala sesuatu, dan bisa memalingkan kekuasaan-Nya sesuai kehendak-Nya. Maka bukanlah disebut zhalim. Dan yang disebut dengan kezhaliman adalah memalingkan kekuasaan tanpa seizin penguasanya.

Jangan kesal terhadap Tuhanmu akan perbuatan-Nya. dengan apa yang nampak pada dirimu meski tak kau sukai dan merusak dirimu. Maka kamu harus bersyukur, sabar, ridha dan meninggalkan ancaman atau penekanan, dan meninggalkan nafsu yang buruk serta meninggalkan hawa yang menyesatkanmu dari jalan Allah Swt, dan kau harus senantiasa berdo’a dan mempertulus permohonan perlindungan, berbaik sangka pada Tuhanmu, menunggu karunia-Nya, meyakini janji-Nya, malu kepada-Nya, menyelaraskan diri dengan perintah-Nya, dan menghindarkan diri dari larangan-Nya. Salahkan dirimu hanya telah membuat tuduhan dan prasangka, ini lebih utama. Hati-hatilah dengan nasfsu amarah dan kerelaanmu kepada hal tersebut, karena musuh Allah adalah musuhmu juga. Menghujat musuh Allah, dan memusuhi setan yang terkutuk, maka ia termasuk khalifah-Nya. Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Waspadalah, waspadalah dan mohonlah ampunan-Nya. Kutuklah hawa nafsumu selamanya, dan nyatakanlah kezhaliman buatnya, bacakan untuknya firman Allah.

“Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan Beriman?. Dan Allah Maha mensyukuri lagi maha mengetahui.” (QS. An-Nisaa’: 147)

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya sesuatu pun kepada manusia, akan tetapi manusia itu sendirilah yang berbuat aniaya.” (QS. Yunus: 44)

Bacakanlah bagi dirimu kata-kata ini, ayat-ayat lain Al-Qur’an dan sabda-sabda Nabi. Berpeganglah melawan dirimu demi Allah. Jadilah komandan pasukan-Nya, sebab egomu adalah musuh terbesar diantara musuh-musuh terbesar Allah. Maka kecintaan Allah akan menjadi keniscayaan bagimu.□

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *